<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962</id><updated>2012-02-09T04:13:20.386-08:00</updated><title type='text'>iddailynet | book for good</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-8024058391354736107</id><published>2011-02-18T10:06:00.001-08:00</published><updated>2011-02-18T10:06:54.123-08:00</updated><title type='text'>Aksi orasi di Benny</title><content type='html'>Diana AV Sasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung orasi DBUKU Bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya, siang ini (17/7) menyajikan orator Benny Wicaksono, seorang pelaku dan pegiat New Media Art potensial dari Surabaya. DBUKU Bibliopholis berusaha menghidupkan kembali tradisi orasi sebagai sebuah tradisi teater kesadaran. Mengikuti kronik sejarah, umumnya orasi-orasi itu dipanggungkan anak-anak muda berusia belia. DBUKU Bibliopois juga mengundang anak-anak muda berpikiran progresif itu untuk maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung ini dinamakan “Orasi Satu-7-an”. Bukan saja dilaksanakan di tiap-tiap tanggal 17 bulan berjalan, melainkan merefleksikan tanggal 17 (Agustus) sebagai tanggal revolusi Indonesia di mana orasi dari esei paling memukau, naskah Proklamasi, dibacakan oleh salah satu manusia orator yang pernah dilahirkan Surabaya dan Indonesia, yakni Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini isi orasi yang disampaikan Benny Wicaksono :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum-forum seperti ini sangat langka di kota industri seperti Surabaya. Perbincangan yang sifatnya kebudayaan sudah terabaikan. Apalagi anak-anak muda kita lebih cenderung gemar ke mall dengan menghabiskan waktu, uang, dan peluang untuk hal-hal yang kurang produktif dan bersifat konsumtif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dbuku Bibliopolis yang hadir sebagai sebuah perpustakaan di mall adalah sebuah tawaran alternatif dari hal-hal yang sifatnya pragmatis, konsumtif. Ini model pemberontakan anak muda yang meskipun dalam diam, namun sesungguhnya menyajikan sebuah pemberontakan. Ini adalah model suatu agenda sejarah yang memberikan tawaran wilayah alternatif dari kesesakan hal-hal yang sifatnya pragmatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan ini penting dilakukan oleh anak muda. Karena anak muda di Indonesia kurang memahami nilai dasar dari budaya yang mereka gandrungi saat ini. Mereka kurang mengerti bahwa budaya dari luar negeri yang mereka serap sesungguhnya memiliki semangat pemberontakan revolusioner terhadap kondisi sosial di negeri asalnya. Bukan sekedar gaya yang dianggap modern, keren seperti yang mereka rayakan saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya anak-anak muda menyediakan sedikit waktu untuk belajar bagaimana counter culture itu muncul sebagai sebuah bentuk protes yang sangat cerdas dan intelektual. Bukan sekedar perayaan dari ungkapan yang sinis. Protes itu pada sejarahnya adalah suatu bentuk perlawanan terhadap tekanan dari pihak-pihak yang berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya hip hop  yang lahir di Inggris itu berasal dari kaum yang meneriakkan segala caci maki dari tekanan hidup, perayaan kemiskinan, di tengah kemakmuran negeri yang makmur. Hip-hop kemudian menjadi suatu model pemberontakan yang mendunia. Sebuah budaya perlawanan yang alamiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana model pemberontakan budaya model Indonesia? Saya pesimis. Apakah ketika budaya Metal (melayu total) merajalela, itu adalah sebuah pemberontakan budaya? Bisa jadi. Apakah karena kita melayu kita menjadi sendu dan mendayu dayu? Ini mungkin pemberontakan yang dilakukan oleh anak muda yang penuh penampilan sangar, gahar, penuh anting, simbol-simbol pemberontakan tapi melagukan lagu cengeng, menghiba-hiba, tanpa melakukan suatu semangat, tanpa membangun suatu apresiasi. Kemudian mereka menjadi sangat terkenal dan semua anak muda menirunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berada dibalik kerja media adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap semua model informasi dari barat yang disampaikan kepada masyarakat luas.Budaya televisi sangat perlu disoroti. Ada pendapat bahwa televisi akan membuka cakrawala pemikiran, menembus batasan informasi, membawa ke ujung dunia. Tapi apakah benar televisi itu ada disini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beberapa televisi yang membawa suatu demokratisasi informasi tapi presentasinya sangat kecil. Televisi kita hanya bicara soal rating. Program harus ditonton orang banyak, dimunculkan sebagai sebuah model pembenaran, model realitas dan menambah pundi-pundi. Akhirnya sebuah model budaya yang irasional hadir melalui program televisi, memasuki ruang-ruang suci keluarga Indonesia, meracuni sendi-sendi pemahaman anak-anak bangsa. Dan kita merayakan dengan gegap gempita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah konsekuensi sebuah tehnologi. Teknologi itu kemudian menyerang, mencaplok sisi-sisi kecerdasan anak muda yang notabene mereka seharusnya diberi informasi yang membangun kepribadian, kecakapan, dan nilai-nilai moral. Apa boleh buat, semua ini memang ada dalam suatu kondisi global dimana kapital sudah memegang penuh sistem yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa tidak yang bisa kita lakukan adalah membangun cara berpikir pemberontakan kebudayaan. Membangun model dari cara berpikir alternatif, cerdas, rasional, yang sanggup memberi satu pemahaman baru kepada generasi muda Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak muda, saya yakin, dengan rasional kita bisa maju, bertahan, di tenah gelombang modernisme dan kapitalisme global. Kita harus membuka cakrawala pemikiran kita dan pemahaman yang maju. Dan itu bisa kita dapatkan dengan belajar dari alam dan apa yang ada di sekitar kita, salah satunya adalah membaca buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*Profil Benny bisa dilihat disini http://indonesiabuku.com/?p=714&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-8024058391354736107?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/8024058391354736107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2011/02/aksi-orasi-di-benny.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/8024058391354736107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/8024058391354736107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2011/02/aksi-orasi-di-benny.html' title='Aksi orasi di Benny'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-5798005018263158250</id><published>2011-01-20T02:26:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T02:27:06.522-08:00</updated><title type='text'>Soekarno-Kartosoewirjo dalam "Satu-7-an"</title><content type='html'>oleh: &lt;a href="http://bookforgood.blogspot.com/"&gt;Diana AV. Sasa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.iddaily.net/2011/01/semangat-soekarno-kartosiwiryo-dala.html"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 190px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/TTgMTJtzNOI/AAAAAAAAEzg/6CYe7xqxg18/s200/Sukarno%2Bbukan%2BSoekarno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564210862781314274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surabaya memang kota orator. Kota ini pernah melahirkan singa-singa podium dengan suara menggetarkan di mimbar-mimbar terbuka. Di kota ini, Sukarno, tokoh pendiri Partai Nasional Indonesia dididik bagaimana menjadikan orasi sebagai sebentuk teater kesadaran. &lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini, Semaun, tokoh Partai Komunis Indonesia itu belajar dari guru yang sama bagaimana mempengaruhi massa dengan pidato-pidato yang menggetarkan. Kartosoewirjo, pendiri dan panglima perang NII/DI TII menghikmati khotbah di mimbar-mimbar sebagai cara merekrut dan menanamkan ideologi kepada kader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pendiri ajaran-ajaran paling fantastik dan bersimpang jalan itu diajari oleh guru yang sama dan di kampung yang sama bagaimana orasi sebagai alat pergerakan memaklumatkan martabat, mengideologisasikan ide, dan memakzulkan kezaliman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.O.S. Tjkroaminoto di rumah kos pergerakan di Paneleh VII Surabaya. Ia ajarkan menulis di koran kepada tiga isi kepala yang berbeda itu. Tapi sekaligus ia ajarkan orasi semacam teater kesadaran (theatre of mind). Bagi Tjokro, orasi adalah seni pertunjukan gagasan secara terbuka di depan publik. Sebagaimana teater, orasi mestilah membutuhkan panggung, membutuhkan pengeras suara hingga terjauh, juga membutuhkan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kota ini terus-menerus melahirkan oratornya. Pasca grup Paneleh VII, orator yang paling dikenang dalam sejarah nasional adalah Bung Tomo. Orator 10 November itu, bukan saja membakar arek-arek di palagan untuk sabung nyawa, tapi juga dikenang bagaimana sebuah ide jatuh dalam tindakan bersama; bagaimana sebuah suara yang diucapkan dengan selantangnya mampu menerbitkan sebuah keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DBUKU Bibliopholis di era kiwari ini berusaha menghidupkan kembali tradisi itu. Tradisi orator. Tradisi teater kesadaran. Mengikuti kronik sejarah, umumnya orasi-orasi itu dipanggungkan anak-anak muda berusia belia. DBUKU Bibliopois juga mengundang anak-anak muda berpikiran progresif itu untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung orasi DBUKU Bibliopolis ini dinamakan “Orasi Satu-7-an”. Bukan saja dilaksanakan di tiap-tiap tanggal 17 bulan berjalan, melainkan merefleksikan tanggal 17 (Agustus) sebagai tanggal revolusi Indonesia di mana orasi dari esei paling memukau, naskah Proklamasi, dibacakan oleh salah satu manusia orator yang pernah dilahirkan Surabaya dan Indonesia, yakni Sukarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar suara-suara itu menyebar luas, DBUKU merekam suara-suara yang kritis dan reflektif itu dalam pelbagai medium. Seperti brosur, keping cd, dan disiarkan berulang-lang via radio streaming sehingga terdengar ke kalangan terjauh yang terpapar oleh kabel lebar internet.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-5798005018263158250?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/5798005018263158250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2011/01/soekarno-kartosoewirjo-dalam-satu-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/5798005018263158250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/5798005018263158250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2011/01/soekarno-kartosoewirjo-dalam-satu-7.html' title='Soekarno-Kartosoewirjo dalam &quot;Satu-7-an&quot;'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/TTgMTJtzNOI/AAAAAAAAEzg/6CYe7xqxg18/s72-c/Sukarno%2Bbukan%2BSoekarno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-406602940832555852</id><published>2010-04-27T15:08:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T01:45:28.913-07:00</updated><title type='text'>[ Book for Good ] Biografi Setengah Hati Hatta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bookforgood.blogspot.com/"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 87px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/S9dfe5nowoI/AAAAAAAAEQ8/LHlbUTje4zs/s400/hatta.php.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464941657305170562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul   : Hatta:Hikayat Cinta dan Kemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis  : Dedi Ahimsa Riyadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penerbit  : Penerbit Edelweiss (2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tebal  : vii+279&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah tentang 4 ‘istri’ yang begitu dicintai: Indonesia, rakyat Indonesia, buku, dan Rahmi. Dengan menyajikan sosok Mohammad Hatta, sebagai figur bapak bangsa yang demikian mencintai bangsanya. Juga rakyat dan buku-bukunya hingga rela bersumpah tak akan menikah sebelum kemerdekaan Indonesia tercapai, Dedi Ahimsa Ariadi, menasbihkan buku ini sebagai sebuah novel biografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi memfigurkan seorang Hatta sebagai sosok yang bak aose di tengah gurun. Ketika situasi negeri tengah digoncang krisis kepemimpinan akibat beberapa tokoh pergerakan ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial Belanda, Hatta tampil sebagai orang yang paling lantang berteriak bahwa pergerakan menuju Indonesia  merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak boleh bergantung pada figur individu. Dengan sepenuh keyakinan dan semangat ia terus menyuarakan dan menjaga semangat kemerdekaan. Melalui tulisan dan pengkaderan di daerah-daerah, Hatta meyakini dapat memunculkan pemimpin-pemimpin baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkan dengan bahasa sastra yang bertabur metafora, Dedi berhasil mengaitkan antara akibat pembajakan kapal perang Belanda HNMLS De Zeven Provinciёn oleh awak kapal pribumi dan Eropa sebagai bentuk protes atas pemangkasan upah, dan penangkapan beberapa awak kapal hingga menjadi sorotan internasional dan membuat pemerintah kolonial gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terjadinya krisis kepemimpinan di negeri ini setelah Soekarno-tokoh yang menjadi panutan rakyat saat itu- ditangkap dan diasingkan. Sampai ditiik ini, Dedi sukses menampilkan latar kemunculan Hatta sebagai tokoh bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta kemudian ditilik latar belakang masa kecil hingga mudanya. Dengan gaya orang ketiga, diceritakanlah bagaimana Hatta lahir di lingkup keluarga berbudaya minang yang umumnya matrialkal namun keluarga Hatta menganut patrialkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digambarkan pula pondasi keagamaan Hatta yang tersemai sejak belia hingga kemudian hari prinsip keagamaan itu menjadi pegangan dan sandarannya dalam memilih jalur pergerakan. Tuturan hingga 4 bab ini cenderung deskriptif dan naratif, sangat miskin dialog .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tokoh Hatta terbangun melalui perspektif penulis. Pembaca tak mendapat kesempatan untuk membuat penilaiannya sendiri. Meski ada novel yang bergaya seperti ini, namun sangat jelas bahwa apa yang dikisahkan Dedi adalah biografi sesungguhnya dari seorang Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada imajinasi apalagi fiksi tergambar. Maka pada separuh buku ini sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa buku ini adalah sebuah biografi yang diceritakan dengan gaya bahasa sastra, bukan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh bab yang tersisa mengisahkan perjalanan Hatta dalam menempuh pendidikan di Belanda, sampai  kembali ke Indonesia dan memimpin organisasi pergerakan, ditangkap, diasingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bergelut dengan tulisan dan buku,  hingga takdir membawanya ke gerbang kemerdekaan Indonesia sebagai proklamator-penandatangan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jika sempat membaca biografi Hatta di Wikipedia, maka isi bab ini tak terlampau jauh dari itu. Nyaris tak ada yang menyimpang dan tak ada yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Dedi gagal membangun novel dengan alur dan penokohan yang memikat. Ia tuliskan biografi Hatta dengan apa adanya. Sungguh ini sebuah biografi bergaya sastra, bukan novel. Alurnya melompat-lompat dan cenderung banyak melakukan replikasi deskripsi latar baik tempat maupun tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilannya hanya pada gaya metafora penggambaran deskripsi tempat dan suasana yang bagi pembaca muda (baca:kecil) dapat menumbuhkan imajinasi. Tapi bagi pembaca dewasa, metafora ini cenderung berbuih-buih menjemukan. Buku ini cocok bagi pembaca pemula yang belum pernah membaca referensi lain mengenai Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat Dedi sepertinya adalah ingin menunjukkan bagaimana seorang Hatta demikian mencintai negaranya, rakyatnya, dan buku-bukunya hingga barani bersumpah palapa tak akan menikah sebelum kemerdekaan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, tak tercermin seberapa dingin Hatta terhadap wanita. Padahal bila Dedi membaca buku Biogrfai Soekarno yang ditulis Cindy Adams, ia akan menemukan gambaran itu. Janji itu memang dipenuhi Hatta. Ia menikahi Rahmi 3 bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Namun sebagai sebuah novel biografi, Dedi gagal menyajikan potongan peristiwa yang membentuk alur dan penokohan bernada fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi menulis biografi dengan gaya sastra (karna bertabur metafora). Maka selayaknya label novel biografi yang ia sandangkan dibuku ini ditilik ulang kelayakannya bila tak ingin dikata mengecoh pembaca(DS).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-406602940832555852?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/406602940832555852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2010/04/book-for-good-biografi-setengah-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/406602940832555852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/406602940832555852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2010/04/book-for-good-biografi-setengah-hati.html' title='[ Book for Good ] Biografi Setengah Hati Hatta'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/S9dfe5nowoI/AAAAAAAAEQ8/LHlbUTje4zs/s72-c/hatta.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-3434758722289489326</id><published>2010-02-20T03:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T03:14:04.818-08:00</updated><title type='text'>[ Book for Good ] Lasmi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/S3_DyODw3XI/AAAAAAAAEHs/NTfb4AHOfrY/s1600-h/LASMI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/S3_DyODw3XI/AAAAAAAAEHs/NTfb4AHOfrY/s320/LASMI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440282142421605746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul                     : Lasmi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis                 : Nusya Kuswantin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit              : Kaki Langit Kencana, Prenada Media Group&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cetakan               : 1, November 2009&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tebal                     : viii+232hlm; 11,5 x 19 cm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISBSN                    : 978-602-8556-19-4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Lasmi, perempuan desa itu membaca Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Habis Gelap Terbitlah Terang-nya Kartini, juga novel-novel Pujangga Baru. Ia terpesona gagasan Bung Hatta tentang koperasi dan menyukai gagasan Bung Karno tentang negeri ini. Sutikno terpesona Lasmi pada aktivitasnya, pikirannya yang progresif, dan caranya berargumentasi. Meraka kemudian menjalani kehidupan sebagai dua orang berpikiran terbuka, progresif, maju dan membangun rumah tangga ideal a la aktivis pergerakan masa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmi adalah seorang pecinta buku. Ia merintis Kerukunan Belajar Bersama hingga memiliki semacam perpustakaan yang antara lain diisi dengan buku-buku hasil karya warga desa sendiri. Yang ditulis dengan tangan dan berisi tentang apapun. Mulai dari seluk beluk bercocok tanam, hingga dongeng pengantar tidur. Untuk anak-anak, ia dirikan TK Tunas. Disana ia mengajar dengan semangat perubahan paradigma warga desa sedari usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, novel ini miskin dialog. Sosok Lasmi tak tergambar melalui percakapan maliankan tuturan Sutikno. Akhirnya, pembaca seakan digiring untuk melihat dan berpendapat seperti kacamata Sutikno. Lasmi menurut Sutikno, bukan Lasmi menurut bacaan pembaca. Hingga di akhir novel pun, konflik batin Lasmi hanya tergambar dalam surat yang ditulisnya untuk Sutikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekira tahun 1963, ketika Presdien Soekarno sedang getol menyerukan permusuhan dengan Negara tetangga, Malaysia, Lasmi mengambil keputusan penting: Menggabungkan Taman Kanak-kanaknya ke dalam Yayasan Melati dan sebagai konsekuensinya, Lasmi resmi mejadi anggota Gerakan WanitaIndonesia (Gerwani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Taman Kanak-kanaknya kini ada tiga papan nama berjajar: TK Melati, Gerwani, dan Barisan Tani Indonesia (BTI). Aktivitas Lasmi pun berkembang. Ia tak hanya mengajar anak-anak, tapi mulai menggalang petani dan warga kampung untuk bergabung dalam BTI dan Gerwani. Ia membuat terobosan-terobosan pemikiran diantara masalah-masalah warga. Ia membuka ruang-ruang dialog antar warga. Ia mengikuti pelatihan dan pengkaderan. Hingga ia memiliki 5 anggota andalan yang suka membaca, bisa menulis, mampu menyusun surat, mengetik, berani bicara, dan tak segan menjadi ujung tombak; Sarip, Darsiyem, Jum, Bakir, dan Kamidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara dil dengan pemilik tanah. Dengan payung BTI, warga bertekad melakukan demonstrasi melawan kekuasaan 7 setan desa: tuan tanah penghisap, tengkulak jahat, tukang ijon,  lintah darat, kapitalis birokrat alias kabir, bandit desa, dan penguasa jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari pertama Oktober 1965 pun tiba. Tersiar berita di radio bahwa Pasukan cakrabirawa menangkap sejumlah jenderal. Keesokan harinya tersiar lagi kabar bahwa gerakan penculikan jenderal-jenderal adalah upaya kodeta yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Berita itu mneyebutkan bahwa pembunuhan terhadap para jenderal dilakukan di daerah Lubang Buaya oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi politik nasional mencekam. Lasmi sebagai ketua Gerwani di desanya, menanggung resiko penangkapan. Ia pun memutuskan bersembunyi sementara dari kejaran. Bersama suaminya, Sutikno dan anaknya, Gong, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persembunyiannya itu,  ia mendengar berita pembunuhan, pembantaian, dan kekejian terjadi. Saudara-saudara seorganisasinya menjadi target pemberangusan yang sadis. Kondisi ekonomi makin memburuk. Pangan semakin sulit di dapat. Pelariannya bukan hanya penuh ketakutan, tapi juga derita. Puncaknya, ketika Gong tak lagi mampu melawan sakit dan menghela nafas terakhir di 13 Desember 1965. Sayang, bagian pelarian ini tak diceritakan dengan narasi yang mampu menyedot pembaca pada situasi mencekam dan mendebarkan. Datar saja. Penulis tak banyak mengeksplorasi data seputar peristiwa paska september 1965. Ia hanya menuturkan narasi yang kaku dan dangkal. Tiba-tiba saja muncul berlembar-lembar transkrip pidato Bung Karno yang memecah alur novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmi pun guncang. Ia merutuki kecelakaan jaman. Lirih ia berbisik pada Sutikno “Sut, maafkan aku ya? Kalau aku tidak masuk Gerwani, tentulah kita tak perlu mengalami ini semua ini”. Dan ia pun mengambil keputusan untuk menyerahkan diri pada aparat. Dalam suratnya ia menulis “ Sut, meninggalnya Gong telah membuatku menyesali segala aktivitasku sebagai Ketua Gerwani desa kita yang menyebabkan aku jadi buronan dan jadi musuh sebagian masyarakat. Bila sejak awal aku memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, mungkin anak kita masih bisa diselamatkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris disepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah terdengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan. Simak fakta dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan, Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah peristiwa tragis 1965 dalam novel ini memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan hal baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi adalah semata korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmi yang progresif, revolusioner, berpikiran maju, penggerak dan agitator ulung itu rubuh sudah di juntai stagennya. Bukan hanya tubuhnya yang rubuh, tapi idealisme dan militansinya sebagai kader Gerwani ! (Diana AV Sasa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-3434758722289489326?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/3434758722289489326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2010/02/book-for-good-lasmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/3434758722289489326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/3434758722289489326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2010/02/book-for-good-lasmi.html' title='[ Book for Good ] Lasmi'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/S3_DyODw3XI/AAAAAAAAEHs/NTfb4AHOfrY/s72-c/LASMI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-1656764998001286471</id><published>2009-11-12T03:20:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T03:28:26.411-08:00</updated><title type='text'>Membaca Fiksi dalam Tanda-tanda Nano</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SvvwmvQCMdI/AAAAAAAADlA/14WYMLAmR5o/s1600-h/Cover_Sign+Fiction_Nano+Warsono.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 121px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SvvwmvQCMdI/AAAAAAAADlA/14WYMLAmR5o/s200/Cover_Sign+Fiction_Nano+Warsono.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403176726270456274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul : Sign Fiction :The Art Of Nano Warsono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karya : Nano Warsono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penerbit : Langgeng Gallery&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Edisi : Pertama, April 2009 (500 exp)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ukuran : 25cm x 21 cm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tebal : 203 + xxviii&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Genre : Buku Visual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sign Fiction: The Art of Nano Warsono, begitu ia memberi tajuk monografnya. Nano Warsono, perupa asal kota Gandul, Wonogiri yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, bukan sekedar membuat sebuah album karya atau kronik rekam jejaknya berkesenian, tapi ia tengah memindahkan galeri dimana karya-karyanya pernah dipajang, ke dalam media yang lebih kecil: buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku, Nano membawa pembacanya untuk berlama-lama menikmati dan menyelami setiap karyanya. Buku itu bisa dibaca berkali-kali tanpa terbatas waktu seperti bila pameran di galeri. Begitu buku dibuka, karya itu tergelar dan siap dinikmati dengan atmosfer yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan buku, Nano memberi kesempatan lebih banyak orang untuk ‘membaca’ karya senirupanya. Itu berarti juga membuka peluang lebih besar agar pesan-pesan dalam karya Nano turut pula menyebar meluas. Dan seperti umumnya karya seni, pesan-pesan itu tidak tersurat namun tersembunyi dibalik tanda-tanda yang tak nyata, fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda fiksi itu disajikan Nano dalam serangkaian bab yang disebut Hendro Wiyanto dalam pengantarnya sebagai “panel-tunggal-fiksi-sejarah bergambar”. Maka Nano pun mengajak pembacanya untuk mencari tanda itu dengan mengamati perjalanannya di jagad senirupa melalui karya Drawing &amp;amp; Comic (gambar dan komik), Painting (Lukis), Mural, dan Sculpture (patung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ia menggunakan aneka media garapan untuk gambar, mural, patung, instalasi, sampai lukis, namun ada satu kesatuan yang utuh dalam karyanya. Dan itu hanya bisa dinikmati bila dibaca runtut. Tentu sangat memungkinkan bila karya ini ingin dinikmati secara acak. Seperti halnya karya yang dipajang di dinding galeri, ia bisa dinikmati dari mana saja, tidak mesti dimulai disatu titik dan diakhiri di titik tertentu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab Drawing&amp;amp;Comic yang menghabiskan 2/3 bagian dari seluruh halaman Sign Fiction, terlihat sekali tema-tema yang diangkat Nano melalui karyanya adalah semacam kegelisahan dan pemberontakan akan realitas yang ditemuinya semasa tahun 90an hingga awal 2000an. Masa dimana ia masih seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia di Jogja, juga masa dimana Indonesia sedang mengalami transisi kepemimpinan nasional dan carut perekonomian. Masa ini terkesan suram dan berat dalam karya Nano. Ada kegelisahan dan pemberontakan yang demikian berat tersirat melalui garis hitam, karakter seram, dan kutipan-kutipan bernada satirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam sekali aspek yang ditampilkan Nano di bab ini. Nano seperti ingin menunjukkan bahwa masa pencarian yang ia lakoni bersama gambar dan komiknya adalah masa yang bukan saja rumit tapi juga berat. Ada paradoks antara apa yang ia baca dan ia lihat. Ada ketimpangan antara barat dan timur. Nano melihat efek sosial setelah budaya barat dan globalisasi merajai segala sendi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nano membaca bagaimana ketika manusia semakin takhluk pada tehnologi, ketika informasi dikuasai tehnologi, ketika mesin mengalahkan manusia bahkan mendorong manusia menjadi mesin yang kehilangan naluri kemanusiaannya, Nano membaca itu sebagai realitas yang perlu dipertanyakan ulang maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nano juga mempertanyakan kembali makna pahlawan ditengah serbuan tehnologi canggih. Maka kemudian muncul tokoh-tokoh superhero macam Batman yang menjadi Badman. Atau Osama bin Laden yang berada diatas seluruh superhero macam Superman, Spiderman, Heman, dan sebagainya. Ada pula superhero yang mejadi jahat dan penjahat yang digambarkan menjadi karakter baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Drawing &amp;amp; Comic ini juga memperlihatkan bagaimana seorang Nano berproses dengan setiap pengalaman dan realitas dalam diri maupun diluar dirinya. Dengan menonjolkan obyek utama berupa botol, tubuh, dan pohon, Nano mengurai kegelisahan personalnya terkait teman, keluarga, kekasih, dan jati dirinya. Berbagai macam wacana yang ditemuinya bercampur dalam otaknya dan keluar mencari pemaknaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan akan wacana yang berkembang ini juga nampak dalam beberapa karya yang menonjolkan obyek-obyek seperti buku, simbol-simbol agama, nama-nama filsuf, ikon tehnologi, dan pola-pola gambar dengan karakter mind-mapping (peta pikiran). Juga terlihat pada petikan kalimat yang ia tulis dalam gambarnya, seperti “Dan memberontak adalah salah satu cara bertahan hidup yang tepat melawan kemapanan”, atau “Aku butuh sesuatu yang baru, bukan dogma-dogma yang kuno”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikmati gejolak kegelisahan dan perlawanan dengan nuansa hitam putih yang agak suram, pembaca akan diajak menilik karya Nano dalam wujud lukisan. Dalam karya ini, Nano terlihat seperti menemukan kecerahan dan keceriaan. Warna-warna mencolok dan berani membuat karakter lukisannya yang cenderung komikal semakin berkesan kuat dan keras. Disini Nano mulai menyatukan karyanya dalam satu tarikan tokoh komik yang ia pinjam untuk menyampaikan pesan pemberontakannya akan realitas masyarakat urban di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 halaman bab mengenai karya mural Nano, memberi pembaca sedikit gambaran kedalaman dan keluasan wacana dan wawasan seorang Nano, yang ketika itu diungkapkan pada media bebas semacam tembok, ternyata menghasilkan karya yang bukan hanya memiliki estetika tinggi namun juga pesan yang jelas. Karya mural Nano terjejak di Jepara, Jogja, dan Sanfransisco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak terlampau banyak, Nano juga membuat patung. Karya patung yang dibuatnya sekira tahun 2001 masih menampakkan ornamen yang menunjukkan detil. Ini tak lepas dari latar belakang Nano yang dari Jepara dan dekat dengan tradisi ukir kayu. Setelah tahun 2006, patung yang dihasilkannya sudah mengikuti alur lukisannya: komikal dan berwarna mencolok. Dalam setiap karyanya, Nano seperti mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung dan menemukan tanda-tanda pesan yang ingin ia sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persembahan karya visual itu diakhiri dengan sebuah diskusi mengenai Nano dan karya-karyanya. Transkrip wawancara yang dilakukan Rain Rosidi (seorang kurator senirupa) ini memberi gambaran bagaimana Nano memandang suatu karya senirupa. Juga dapat diketahui dasar filosofi Nano dalam berkesenian. Pilihan Nano untuk masuk dunia senirupa professional, dan perkembangan/perubahan karya-karyanya tercakup pula disini. Ditambah sedikit profil dirinya, kita akan memahami mengapa dan bagaimana karya-karya Nano bernuansa komik dan cenderung detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kekurangan pada Sign Fiction adalah penggunaan bahasa Inggris pada judul Bab dan bagian Profile yang tidak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Memang tidak mengganggu, hanya tidak konsisten. Penggunaan bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) semakin memungkinkan Sign Fiction untuk diterima masyarakat senirupa secara lebih luas. Buku ini tepat bagi mereka yang menekuni seni rupa dan membutuhkan tambahan referensi visual. Namun juga bisa dijadikan alternatif lain para penggemar fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti lazimnya sebuah buku, Sign Fiction juga menyertakan pengantar. Kali ini pengantar itu dituliskan FX Widyatmoko Koskow (seorang cover designer, dosen ISI, dan juga editor visual Sign Fiction) yang mengambil judul Wonderline, Garis Negosiatif, Hendro Wiyanto (Kurator) dengan Post-Colonial Pop, dan Arahmaiani dengan Dunia Komik Dalam Karya Nano Warsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar ini memang membantu pembaca untuk mendapat gambaran kesatuan pesan dalam karya Nano, namun sebagaimana karya seni/sastra maka akan lebih nikmat bila karya itu dinikmati tanpa derecoki pendapat dari penikmat yang lebih dulu membacanya. Mengabaikan pengantar-pengantar itu sama baiknya seperti mengabaikan endorsement di sampul belakang buku best seller.&lt;br /&gt;Buka saja bagian karyanya, dan temukan setiap tanda-tanda dalam fiksi gambar yang ingin disampaikan Nano. Karena setelah ide terlahir menjadi karya (baca: buku), maka ia bebas menghadapi sidang pembacanya. (Diana AV Sasa- Penulis Buku “Monumen Ingatan: 100 Seniman Indonesia Membaca Baca Bacaan”)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-1656764998001286471?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/1656764998001286471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/11/membaca-fiksi-dalam-tanda-tanda-nano.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/1656764998001286471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/1656764998001286471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/11/membaca-fiksi-dalam-tanda-tanda-nano.html' title='Membaca Fiksi dalam Tanda-tanda Nano'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SvvwmvQCMdI/AAAAAAAADlA/14WYMLAmR5o/s72-c/Cover_Sign+Fiction_Nano+Warsono.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-5770018848089597145</id><published>2009-10-11T19:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T20:09:25.068-07:00</updated><title type='text'>"Menjual" Indonesia Dari Dalam Taksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.iddaily.net"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 142px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/StKcmrrBUEI/AAAAAAAADgw/VscJM92yqkM/s200/Cover+Indonesia+for+Sale.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391543892288032834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JUDUL    : Indonesia For Sale&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENULIS    : Dandhy Dwi Laksono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;EDITOR   : Hadi Rahman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENERBIT   : Pedati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEBAL BUKU   : XV + 311&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAHUN TERBIT   : Oktober, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DIMENSI   :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISBN   : 979-9682-09-6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARGA   : Rp. 52.000,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Dandhy Dwi Laksono suatu siang di tahun 2009, seperti kunci untuk membuka kotak pandora. Mengetahui apa dan bagaimana melihat semua hal di Indonesia dengan kacamata yang sangat sederhana. Hingga sampai pada kesimpulan: Waktunya kita menjual Indonesia. Yup. Indonesia for Sale!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang, berbicara dengan sopir taksi dalam sebuah perjalanan, adalah hal biasa. Tapi tidak bagi Dandhy Dwi Laksono. Mantan jurnalis televisi ini justru menemukan banyak hal, saat berbicara dengan sopir taksi yang membawanya. Apalagi, perbincangan di sela kemacetan itu secara tidak sengaja mengurai berbagai persoalan di Indonesia. “Bang, macam mana, kok bisa harga bensin turun lagi? Tumben sekali pemerintah. Apa karena bensin tidak laku?...” Begitu Dandhy mengawali paragraf bagian pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan soal bahan bakar minyak (BBM) mengawali semua hal di buku ini. Masuk akal. Karena di Indonesia atau bahkan di dunia, BBM seperti buah saklar yang bisa digunakan untuk “menghidupkan” dan “mematikan” berbagai hal. Bila saklar itu dipencet, banyak hal yang akan terjadi. Yang paling gampang untuk diraba adalah, kenaikan itu merupakan komoditi. Komoditi? Bagaimana menjelaskan kenaikan BBM merupakan komoditi kepada sopir taksi? Di sinilah letak kepiawaian penulis kelahiran Lumajang, 29 Juni 1976 ini. Sekaligus merupakan keunggulan buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dandhy memulainya dengan membuka tabir kerumitan perekonomian dunia dengan menjelaskan betapa minyak mentah (crude) diperdagangkan dengan international market place atau harga pasar internasional. Nah, di dalamnya ada spekulasi dan politik energi. Nah, karena itu juga, bukan tidak mungkin harga BBM akan naik turun mengikuti harga minyak dunia. Melalui topik yang sama, mantan koordinator liputan RCTI ini meraba pejelasan sederhana spekulan yang biasa bermain di future trading. Jangan pernah membayangkan penjelasan itu njilet (baca: rumit). Karena memang tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian tokoh fiktif Mr. Smith di buku ini, memudahkan semua penjelasan itu. Hingga sampai pada kesimpulan, mengapa Indonesia, yang notabene negara penghasil minyak, justru didekte oleh pihak lain yang justru sama sekali tidak memiliki sumur minyak. Logika yang berbalik ini bagai menghempaskan nasib bangsa ini. Hal yang sama juga terjadi pada produk pangan. "Situasi seperti ini adalah gambaran (terlalu) sederhana dari jebakan struktural yang menciptakan kemiskinan tidak berkesudahan." tulis Dandhy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang diawali dari sebuah diskusi antara Dandhy dan sang editor Hadi Rahman ini memang memiliki keunggulan “enak dibaca”. Tidak  hanya oleh orang-orang yang memiliki hasrat yang sama untuk menyelamatkan Indonesia yang mulai “terjual”, tapi juga oleh orang-orang yang ingin memahami persoal pelik ekonomi politik dengan bahasa yang sederhana. Namun, kesederhanaan itu tidak kemudian menjadikan persoalan semakin tidak jelas. Bahkan,  bisa-bisa kita hanya bisa geleng-gelang kepala sambil bergumam,”Ternyata, Indonesia memang dalam bahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja bagaimana Dandhy berbicara soal Neo Liberal atau akrab disebut Neolib. Kata ini sempat begitu terkenal saat Pemilihan Presiden RI 2009. Terutama saat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menggandeng Boediono sebagai calon wakil presiden RI. Nah, Dandhy secara lugas menjelaskan Neolib itu “Pokoknya lebih jekam dari PKI (Partai Komunis Indonesia).” Kok? Yang maksudnya, dengan ideologi Neolib,  orang mati akan kesusahan untuk dikubur. Karena tanah kuburan perlu untuk dibayar. Hal itu terjadi lantasan dalam kacamata Neolib, semua hal itu ada harganya. Bahkan di Cikarang, Jawa Barat, ada tanah kuburan yang seharga milyaran rupiah. Komersialisasi semacam ini, menurut Indonesia For Sale menyandera kepentingan rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh yang dikutip Dandhy dalam buku ini adalah pengkaplingan pantai oleh instansi wisata dan perhotelan tertentu. Bagaimana bisa, pantai yang notabene adalah ciptaan Tuhan itu harus dikapling-kapling seperti yang terjadi di Anyer dan Ancol. Hal ini jelas tidak benar. Harus ada regulasi yang mengatur untuk boleh mengkomersilkan ciptaan manusia, tapi tidak untuk kekayaan alam yang ciptaan Tuhan. Dalam persoalan air misalnya. Siapapun bisa menjual air dalam kemasan, tapi tidak boleh mengkapling mata airnya. Begitu juga soal frekuensi yang tidak boleh dikangkangi oleh siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, dalam sosok Boediono yang kini Wakil Presiden 2009 versi KPU, yang juga merupakan sosok yang sering ditunjuk hidung soal Neolib, Dandhy tidak secara tegas menunjukkan sikapnya. Lulusan Universitas Padjajaran Bandung jurusan Hubungan Internasional justru berputar-putar dengan komentar orang-orang lain tentang Boediono. Dalam bab selanjutnya, Dandhy asyik melembahkan sauh ke belakang. Mencari akar kebijakan Neolib dengan mempelajari liberalisasi ekonomi yang ditulis Adam Smith pada 1776.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kepiawaian yang dimiliki, Dandhy kembali cerdas mengulas bagaimana Adam Smith menjadi begitu diminati orang-orang digenerasinya. Bahkan sampai saat ini. Termasuk mengulas hubungan institusi agama yang menjadi pemicu berjutanya Adam Smith-isme. “Jadi kalau aku mengatakan bumi bulat dan tidak datar lalu aku dicambuk oleh agamawan karena dianggap kafir, aku pasti menjadi pendukung Adam Smith,” tulisnya. Namun, ketika atmosfir penulisan sudah menjadi begitu mengerucut, Dandhy menghempaskan dengan kenyataan bahwa sistem ekonomi modal ini kemudian bisa invalid, dengan munculnya modal-modal baru. Nah lu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian Dandhy mengutip ajaran-ajaran Muhammad, memberikan warna tersendiri. Seperti menampar wajah kapitalis (baca: Neolib) yang seringkali dianggap “biasa”. Perdagangan modal sebagai akses perkembangan kapitalis sudah ditentang Nabi Muhammad ratusan tahun sebelum ajaran Adam Smith dituliskan. “Rasullah melaknat orang yang memakan riba,” kutip Dandhy dibukunya. Tidak hanya itu, ketika permainan harga bahan-bahan dimainkan oleh pasar international, Dandhy juga menemukan antipatinya dalam ajaran Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berbagai kenyataan itulah, dalam Indonesia For Sale, pemimpin situs Aceh di masa DOM, Acehkita.com ini merasa heran dengan kelakuan aktivis Islam yang lebih suka merasia buku-buku sosialisme dan komunisme dibanding text book kapitalisme. “Aku pun heran bila ada ulama yang ikut-ikutan tentara membenci komunis tapi gagap menghadapi kapitalisme atau liberalisme,” tulis Dandhy. Padahal Karl Marx, embahnya sosialis mengatakan agama sebagai candu hanya dikaitkan dalam etos kerja dan tak ada kaitannya dengan teologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain yang membuat buku ini menjadi berbeda adalah keberanian Dandhy untuk memberikan warna kekinian dari sejarah masa lalu. Seperti saat Dandhy mendiskripsikan sejarah William Wallace yang pernah difilmkan dalam Brave Heart dengan Mel Gibson. Dandhy juga tidak ragu mengutip sebuah film berjudul 300 yang menokohkan kaum Spartan. “Spartannnnn,..hah huh hah huh,” tulisnya. Meski demikian hal itu tidak menjadi sisi nasionalisme dan kesejahteraan yang merupakan dua picing mata yang saling berhubungan menjadi tidak terjelaskan.&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, keduanya lebih banyak berbenturan. Terutama ketika dalam era enam presiden, keseimbangan antara nasionalisme dan kesejahteraan mengalami pasang surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia for Sale ingin kembali mengingatkan khalayak, bahwa sejarah telah mencatat kesejahteraan versi Orde Baru adalah sebuah hal yang semu. Kesejahteraan menjadi semacam opium yang membius kesadaran. Saat tertidur kekenyangan, ladang kita telah tergadaikan. Saat kita terlelap mesra, tanah air yang dulu direbut kakek nenek kita dengan darah, tiba-tiba ditumbuhi taman belukar berwujud dolar. Dengan plakat besar di depannya: Indonesia for Sale.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-5770018848089597145?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/5770018848089597145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/10/menjual-indonesia-dari-dalam-taksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/5770018848089597145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/5770018848089597145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/10/menjual-indonesia-dari-dalam-taksi.html' title='&quot;Menjual&quot; Indonesia Dari Dalam Taksi'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/StKcmrrBUEI/AAAAAAAADgw/VscJM92yqkM/s72-c/Cover+Indonesia+for+Sale.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-4938005931312125731</id><published>2009-08-08T20:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T20:54:12.392-07:00</updated><title type='text'>Krisdayanti: Meraih Bintang dengan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bookforgood.blogspot.com/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 174px; height: 248px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Sn5IFEXNmuI/AAAAAAAADLg/CoDIPrupaqI/s400/Cover+003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367807057779858146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bookforgood.blogspot.com/"&gt;Diana AV Sasa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisdayanti (KD), begitu orang mengenalnya. Ia dikenang karena lagu-lagunya beberapa kali merajai pasar musik Indonesia hingga manca. Permainan perannya di layar kaca sempat memukau dan menguras air mata ibu-ibu pecinta sinetron. Tampilan panggungnya glamor, atraktif, dan memikat. Setiap gaya rambut, pakaian, hingga alisnya menjadi barometer trend para perempuan. Ia menjadi sorotan halayak. Kiprahnya dikenang dan tercatat dalam sejarah musik tanah air. Ibarat produk, ia adalah barang kelas 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ‘produk’ kelas 1, KD menjaga sekali kepuasan pelanggannya, dalam hal ini pengemarnya. Untuk itu ia berusaha sebisa-bisanya untuk menjaga kualitas ‘produk’. KD bukan hanya menjaga kualitas suara, tapi juga penampilan panggung dan citra diri seutuhnya. Baginya, pengemar yang sudah membayar mahal untuk melihatnya di panggung, layak mendapat suguhan terbaik. Penata musik, pinata rias, penata kostum, koreografer, hingga tata panggung dilakukan oleh orang-orang terpilih dan terbaik dikelasnya. Penggemar yang mengaguminya sebagai bintang, juga layak mendapat apresiasi penuh. Citra diri sorang bintang dibangunnya dengan pondasi keyakinan, harapan, dan menejemen yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ‘bintang’, KD bukan hanya ingin populer tapi juga ingin  agar dirinya selalu dikenang penggemarnya, KD menjalankan petikan kalimat Franklin di atas dengan baik. Di jagad tarik suara, ia akan dilupakan jika lagu-lagunya tak lagi memenuhi selera telinga pasar. Tapi KD terus berinovasi. Dan seperti kata Franklin, KD menulis sesuatu yang pantas dibaca orang lain, buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu bertajuk “Catatan Hati Krisdayanti: My Life My Secret” (MLMS), ditulis dan tata ulang oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah akrab dengan dunia artis dan pernah menulis biografi beberapa artis lain seperti Chrisye, Titik Puspa, Anne Avanty, Venna Melinda, dan KD sendiri. Buku ini adalah buku kedua yang mengupas sisi hidup seorang KD, sang diva, sang bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MLMS ditulis dengan semangat berbagi. Menguak rahasia kesalahan di masa lalu, dan membagi pelajaran berharga dari dalamnya. Tentu saja ini bukan hal baru. Banyak orang penting (baca:public figure) yang menguak sisi-sisi gelap dirinya dengan semangat berbagi kisah dan teladan hidup. Namun, sebagai seorang bintang, upaya KD membukukan catatan hidupnya bukan semata karena ingin berbagi. Ini adalah satu dari sekian banyak upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan kebintangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumus karir KD, eksistensi adalah kunci untuk tetap bertahan dan dikenang sebagai seorang bintang. Ketika pasar musik Indonesia digeruduk musik-musik band dan maskulin, KD harus mempertahankan kebintangannya dengan terus berkarya. Ia tak bisa memaksakan masyarakat untuk selalu menerima musik dan lagunya. Maka ia harus berkarya dalam format lain agar masyarakat terjaga ingatannya akan seorang KD. Dan ia memilih untuk membuat buku (lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku adalah monumen perjalanan yang merekam jejak sang bintang. Ketika sang bintang masih menghela nafas, pembacanya dapat menilik kebenaran dari apa yang dikatakan buku dengan memadankannya dengan realitas. Ini tentu berbeda jika buku ditulis ketika sang bintang sudah berkalang tanah. Pembaca hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira saja. Itu pula alasan mengapa Omi Intan Naomi menulis proses berkarya Ugo Untoro dalam senirupa justru ketika Ugo masih hidup. Meski tak lama setelah buku itu terbit, Omi rebah untuk selama-lamanya. Namun ia telah meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang:buku. Ugo maupun KD adalah bintang, dan mereka patut membangun monumennya dalam sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pertama KD, “1001 KD”, lebih banyak mengungkap sisi positif KD sebagai bintang. Pencapaian-pencapaian dan pernik-pernik hidupnya yang membentuk citra seorang bintang. Maka MLMS mengimbanginya dengan menampilkan sisi KD sebagai manusia biasa yang tak luput dari alpa dan luput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa wawancara dengan media massa, KD menyebutkan bahwa ada tiga rahasia penting yang diungkapnya dalam MLMS. Pertama, KD pernah mengonsumsi narkoba pada 1998 hingga 1999. Kedua, KD pernah ditalak oleh Anang, suaminya. Dan ketiga, ia mengungkapkan bahwa ia pernah operasi plastik. Bagi KD, ketiga hal itu adalah rahasia besar dalam kehidupannya. KD memang bertahan untuk menjaga citra yang dibangunnya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memunculkan sosok KD yang nyaris sempurna :Cantik, tubuh sempurna, populer, materi melimpah, keluarga bahagia,dan banyak kawan.Maka segala hal-hal buruk yang dapat menurunkan citranya wajib segera ditutup dan diupayakan tidak tersiar ke publik. Maka MLMS menjadi semacam sensasi untuk kembali mengetuk ingatan orang akan seorang KD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, tidak ada yang terlalu mengejutkan dari ketiga rahasianya. Narkoba adalah barang yang sudah akrab dengan dunia selebriti. Media massa sudah banyak merekam kronik artis yang pernah menjajalnya. Sebut saja Roy Marten, Ari Laso, Doyok, Slank, Sheila Marcia, dan lain-lain. Mereka itu yang kebetulan tertangkap, yang masih menikmati surga semu itu juga tak sedikit. Padatnya kegiatan keartisan yang membutuhkan stamina prima, psikologi yang tertekan karena terus menjadi sorotan, hingga lingkungan pergaulan yang akrab dengan dunia malam adalah beberapa alasan yang acap kali terlontar. Narkoba menjadi identik dengan dunia keartisan secara tidak langsung karena media banyak memberitakan artis yang menggunakan barang memabukkan itu. Maka ungkapan KD pernah menghisap shabu-shabu tidaklah terlalu mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan bahwa Anang pernah melontarkan talak pada KD gara-gara KD bersikap kasar pada ibu mertuanya juga tak terlampau mengejutkan sebenarnya. Sekali lagi, ini karena media telah banyak memberitakan peristiwa kawin-cerai dikalangan artis. Hingga hal itu menjadi hal yang dianggap biasa bagi kalangan artis dimata penikmat media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan operasi plastik. Sudah bukan gossip atau hisapan jempol jika artis banyak melakukan operasi  plastik untuk merubah atau mempertahankan penampilannya agar tetap prima. Lagi pula, operasi plastik banyak dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita paska melahirkan yang kendur. Ketika KD melakukannya, sudah tidak aneh. Selain banyak orang melakukannya, beberapa media memang pernah mempertanyakan postur tubuhnya dan melontar tuduhan operasi plastic. Maka pengakua KD kemudian hanya menjadi satu pembenaran saja atas tuduhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, MLMS layak mendapat apresiasi mengingat tak banyak seniman kita yang memiliki kesadaran untuk membukukan perjalanan hidup dan karirnya sehingga generasi mendatang dapat belajar dari bukunya. Pencatatan ini penting, karena secara tidak langsung sejarah ditorehkan dari sini. Buku menjadi semacam monumen sejarah. Tempat dimana setiap pencapaian dan peristiwa dikenang. Kita akan mengenal sejarah dengan baik jika kita dapat mengenali sejarah diri kita sendiri, begitu kata Pramoedya. Maka tulislah sejarah hidupmu sebaik-baiknya, serapi-rapinya. (Diana AV Sasa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-4938005931312125731?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/4938005931312125731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/08/krisdayanti-meraih-bintang-dengan-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/4938005931312125731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/4938005931312125731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/08/krisdayanti-meraih-bintang-dengan-buku.html' title='Krisdayanti: Meraih Bintang dengan Buku'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Sn5IFEXNmuI/AAAAAAAADLg/CoDIPrupaqI/s72-c/Cover+003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-858306137854608157</id><published>2009-04-18T08:51:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T10:28:21.098-07:00</updated><title type='text'>Wendo Bilang Mengarang Itu Gampang, Kataku TIDAK!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diana AV Sasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.iddaily.net/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Sen3twW4xOI/AAAAAAAAC8M/JeeB9H58p6E/s200/IMG_0003.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326060399789393122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengarang Itu Gampang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis : Arswendo Atmowiloto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penerbit : PT Gramedia (1981-2001)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan hanya membaca. Kalau saat itu sudah mencoba mengarang, pasti lain halnya. Untuk yang terakhir ini saya percaya penuh. Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai.” Begitu tulis Arswendo dalam pengantar edisi kedua buku Mengarang Itu Gampang yang sudah lebih dari 5 kali cetak ulang selama sepuluh tahun sejak 1981 hingga 2001. Paragraf terakhir Arswendo itu mendorong saya untuk terus memamah isi bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis pemula, kata-katanya cukup melecut untuk penasaran mengetahui trik dan resep apa yang dipunya seorang maestro agar menulis (baca: mengarang) bisa lebih mudah dan ciamik. Maka saya pun menekuni setiap bab pada buku itu dengan gairah yang menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu tak terlalu tebal. Hanya 118 halaman. Cukup ringan untuk sebuah buku panduan. Ditulis dengan teknik tanya jawab. Gaya bahasanya juga ringan dan bertutur meski materi bahasannya berat. Wendo tampaknya cukup mahir menjadikan yang berat jadi enteng, yang berkabut menjadi jernih dan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada “tapinya”. Saya jadi jenuh saat memasuki lembaran tengah. Semangat dan gairah yang sejak awal saya sulut mendadak meredup dan menghentikan alur baca saya hingga hanya membaca sekilas lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal bab, Wendo mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa menurutnya mengarang itu gampang. Ada 4 pondasi yang diletakkannya untuk mengatakan menulis itu gampang. Pertama, harus bisa membaca dan menulis. Syarat ini tentu banyak yang bisa memenuhi, tak terlampau sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pondasi berikutnya adalah minat dan ambisi yang terus-menerus. Membaca dan menulis yang baik perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis. Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta, selalu ada, terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang dicintai, dan kita percaya, ada Sesutu yang baik yang akan kita lakukan dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wendo benar tentang ini. Rasa cinta memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan ringan dijalani. Jika sudah ada rasa cinta, maka langkah akan mengalir dengan sendirinya. Semangat ini menjadikan menulis terkesan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondasi sudah diletakkan. Wendo kemudian menuntun memahami bagaimana meramu sebuah ilham sehingga menjadi ide. Diperlukan dua hal yang bisa menjadi kompas: Untuk apa kamu menulis? Apa sebenarnya kemauanmu menulis? Di sinilah peran pandangan penulis terhadap sebuah ilham sangat menentukan. Pada bagian ini penulis bisa memilih ingin menggabung realitas dan imajinasi dengan porsi dan cara bagaimana. Sebagian atau keseluruhan, terserah penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide yang sudah ada itu hanya akan menjadi sebatas ide jika tak dituliskan. Maka segera saja mulai menulis. Jika belum siap, bisa diawali dengan membuat coretan tentang ide dasar yang ingin dikembangkan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tambahan. Maka penulis harus mencari informasi pendukung idenya itu sehingga bahan yang akan diolah makin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat dengan Wendo. Di era internet ini, mencari bahan pendukung penulisan sudah bukan hal sulit. Cukup tanyakan Paman Google, dan segudang bahan akan tersedia. Hanya tinggal diperlukan kemahiran menguatak-atik bahan dan menyelipkan gagasan kita dalam rangkaian tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang pengarang sebenarnya adalah menggabung-gabungkan hal yang sepertinya tak ada hubungannya menjadi saling terkait. Ini adalah seni menulis kreatif yang merupakan sikap dasar penulis. Kreatif menggabung-gabungkan, seperti menjahit kain perca hingga menjadi lembaran warna-warni yang cantik dan unik berirama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahap ini saya masih cukup mengikuti alur buku ini. Memasuki bahasan berikutnya, saya mulai jenuh. Ini seperti mendapat pelajaran mengarang di sekolah. Beberapa macam jenis plot dipaparkan. Plot dengan ledakan, plot lembut, plot lembut meledak, plot terbuka, plot tertutup, sampai bagaimana mengembangkan plot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot yang sudah didapat, tulis Wendo, harus dikembangkan dengan mencari sebab agar mendapat kesimpulan akibat.  Kemudian bagaimana plot ini dikunci dengan penutup dan akhir yang tepat. Selanjutnya diulas bagaimana menghadirkan tokoh, memilih tempat/lokasi cerita dan penggambarannya. Diakhir baru dibahas mengenai tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini agak janggal, karena tema biasanya justru dibahas diawal sebagai sebuah bagian besar dari rentetan teori sebelumnya. Ini barangkali seperti teori paramida terbalik. Yang besar ada di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang coba disederhanakan dengan cara dialog ini memang menjadi terkesan ringan, namun tetap saja membuat kepala penuh teori yang mengesankan mengarang jadi berat dan susah karena banyak aturannya. Bagi penulis pemula, hal ini membuat awal menulis jadi terasa berat sekali. Aturan hanya membuat ide penulisan cupet. Belum-belum sudah dihadang aturan yang menggertak bahwa tulisan yang tidak patuh aturan adalah tulisan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips dan trik yang saya harapkan tidak terlampau terpenuhi sampai halaman ke 65 buku ini. Saya hanya seperti mendapat pengulangan dari pelajaran mengarang saya di sekolah. Pada sisa bab yang ada, penulis memberikan bonus pengetikan dan ejaan yang baik. Ini menjadikan beban untuk memulai tambah berat dipundaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru mau mengawali sudah tambah beban ejaan yang rumit diingat. Mau mulai mengetik saja sudah khawatir ejaan dan bahannya tidak tepat. Materi tambahan ini jika tidak suka bisa dilewatkan saja, karena meski menulis dengan ejaan yang benar itu lebih baik dan penting, namun tugas itu bisa menjadi lebih ringan ketika dibagi dengan editor yang lebih menguasai ilmunya. Tugas penulis adalah menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonus lain di bab akhir adalah bagaimana mengirim karangan ke media. Bagaimana antisipasi jika karangan ditolak. Hingga sistem pembayaran honor.  Pentingnya membaca karya satra, dan juga beberapa pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan sandaran hidup seorang penulis. Walau saya kurang yakin, Wendo tetap keukeuh menyakinkan untuk percaya bahwa mengarang itu gampang. Tinggal menjajal dan membuktikannya. Percaya bahwa mengarang itu pekerjaan terhormat, tidak kalah dan tidak lebih daripada profesi-profsi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah buku yang cukup legendaris pada era 80an. Ketika itu menulis masih belum dianggap pekerjaan menjanjikan. Sehingga kehadiran buku ini cukup membantu sebagai panduan bagi mereka yang ingin mulai menekuni dunia tulis menulis. Nama besar seorang Arswendo mempengaruhi larisnya buku ini di pasaran. Saya pribadi sebagai penulis pemula, melihat buku ini lebih sebagai panduan menulis dengan baik, bukan sebuah buku yang memberikan tips dan trik menulis sehingga menjadi mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kecintaan pada profesi memang bisa membantu beban menjadi ringan, namun untuk menjadikannya mudah butuh panduan dan penjelasan yang mudah dimengerti pula. Buku ini tidak cukup mengakomodir itu. Gaya penulisannya memang ringan, namun topik bahasannya berat. Contoh-contoh buku yang dihadirkan pun cenderung jarang dikenal. Sebut saja The Social Construction of Reality-nya peter l berger dan Thomas Luckman, Little House on the Priere-nya Laura Ingall Wilder, Untung Suropati-nya Abdul Muis, dan sebagainya. Bagi yang tidak pernah membaca buku ini akan sulit sekali menangkap penggambaran yang dimaksudkan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, buku ini layak menjadi referensi bacaan dan panduan bagi mereka yang telah rajin menulis, telah menemukan menulis sebagai sebuah aktivitas yang penuh disiplin dan ingin mengembangkan kemampuannya sehingga tulisannya lebih bernas. Pada akhirnya mengarang tidak menjadi lebih gampang setelah membaca buku bertabur teori ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-858306137854608157?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/858306137854608157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/04/wendo-bilang-mengarang-itu-gampang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/858306137854608157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/858306137854608157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/04/wendo-bilang-mengarang-itu-gampang.html' title='Wendo Bilang Mengarang Itu Gampang, Kataku TIDAK!'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/Sen3twW4xOI/AAAAAAAAC8M/JeeB9H58p6E/s72-c/IMG_0003.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-74893253464819562</id><published>2009-03-21T01:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T01:42:45.739-07:00</updated><title type='text'>Aku Bisa Menulis!: Buku Meditasi untuk Para Penulis</title><content type='html'>Diana AV Sasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.iddaily.net"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ScSoCF2B0EI/AAAAAAAAC5E/eLTU0b3Mz8k/s200/cover.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315558214086021186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku Bisa Menulis!: Buku Meditasi untuk Para Penulis&lt;br /&gt;(Walking on Alligators: A Book of Meditation for Writer&lt;br /&gt;Penulis  : Susan Shaughnessy&lt;br /&gt;Penerbit  :Mizan Learning Centre(2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Soal Rutinitas&lt;br /&gt;“Hanya dengan menulis setiap pagilah seseorang bisa menjadi penulis. Mereka yang tidak melakukan itu akan tetap menjadi amatir” (Gerald Brenan)&lt;br /&gt;Kalimat diatas dikutip Susan Shaughnessy di awal-awal Walking on Alligator, atau Aku Bisa Menulis!. Selanjutnya dia mengingatkan bahwa pada dasarnya seorang penulis adalah orang yang menulis. Mereka menulis dalam kondisi apapun. Tertekan, gembira, jatuh cinta, bersedih, kedokter gigi, atau ketika tidak sedang melakukan itu semua. Mereka tetap menulis dalam kondisi pemerintahannya digulingkan atau sedang dibangun kembali. Mereka menulis karena mereka menulis.&lt;br /&gt;Susan menambahkan, pemikiran yang ada di hari ini,ide yang siap mengalir hari ini, tidak akan bisa dituangkan esok hari. Waktu yang diluangkan untuk menulis tidak pernah sia-sia. Seandainya Anda hanya bisa meluangkan waktu selama dua puluh menit, dan hanya bisa menuliskan satu atau dua kalimat saja, Anda tetap melakukan sesuatu yang penting. Anda telah menuliskannya.&lt;br /&gt;Kemudian Susan mengakhiri dengan kalimat menggugah : Aku akan menulis hari ini. Inilah kesempatanku untuk melakukan apa yang aku katakan ingin aku lakukan.&lt;br /&gt;Susan menuturkan semua itu ketika membahas tentang cinta. Tak ada salahnya cinta menulis. Tapi cinta saja tidak cukup untuk menjadi seorang penulis. Kecintaan itu harus diwujudkan dalam keseharian hingga terbukti. Seorang yang cinta menulis harus menulis setiap hari,demikian tulis Susan.&lt;br /&gt;Menulis memang harus menjadi sebuah ritual. Dilakukan diwaktu yang sama dan terus menerus. Sekali berhenti maka ia akan berhenti lagi, lagi, dan lagi. Tak ada hari libur yang tak menyenangkan. Dan sekali libur menulis berarti membuang satu kesempatan berharga untuk mencurahkan ide dalam tulisan. Ide itu akan selalu ada dalam kondisi apapun. Depresi sekalipun.&lt;br /&gt;Bagi Susan, depresi bukan halangan untuk menulis. Memang menulis tak mampu mengusir depresi,tetapi depresi tak perlu melumpuhkan menulis. Ciamik sekali cara Susan membalikan cara berpikir negatif menjadi positif ini. Kebanyakan penulis akan berkata ia sedang tak dapat menulis karena tengah mengalami depresi akibat masalah lain. Susan membalikkan logikanya. Kalimat menggugah yang ditulisnya : Hari ini aku kembali meneguhkan janji untuk menulis secara teratur, tanpa tergantung suasana hatiku. Aku tahu aku bisa menulis dengan baik dalam kondisi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis dalam segala kondisi. Memang butuh keyakinan dan keteguhan niat untuk itu. Alih-alih menuis dalam kondisi apapun, banyak orang yang ingin menulis tapi berdalih peralatannya tak menunjang,komputernya lambat-atau tak punya-, penanya jelek, kertasnya habis, ruangannya tak nyaman, situasinya kurang pas, masih banyak masalah, atau moodnya belum dapat. Hambatan-hambatan dalam diri itu sebenarnya bisa diatasi dengan sedikit perubahan cara berpikir.&lt;br /&gt;Bukan komputer, pena, kertas, situasi, ruangan, atau moodnya yang mesti dirubah, melainkan kemauan untuk mau menulis dan melakukannya dengan rutin dalam media apapun. Komputer hanya alat bantu, jika tak ada komputer masih banyak alat tulis lainnya. Sade, pengarang dari Perancis itu sampai menggunakan darah dan kotorannya untuk menulis. Hanya karena semua alat tulisnya dirampas. Jika sade saja bisa, maka siapapun yang ingin menjadi penulis pasti juga bisa mengatasi hambatan kecil semacam itu. Tak perlu menunggu hidup yang layak dan tenang untuk mulai menulis.&lt;br /&gt;Sade memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Menjadi penulis sudah menjadi tujuan dan garis hidupnya. Dengan memiliki tujuan maka penulis akan tahu kemana ia akan menuju dan untuk apa ia kesana. Tujuan itu juga bisa dijadikan pelecut semangat kembali jika ditengah perjalanan menggapai tujuan ditemukan hambatan. Ini adalah upaya menjadikan menulis sebagai sebuah tujuan dan cita-cita untuk diraih. Sebagai sebuah ritual, menulis memang harus menjadi aktivitas yang berdedikasi.&lt;br /&gt;Simak apa yang dikutip Susan dari Janet Frame berikut ini, satu-satunya hal yang pasti tentang menulis dan upaya untuk menjadi penulis adalah bahwa menulis itu harus dilakukan, bukan diimpikan atau direncanakan tanpa pernah ditulis, atau dibicarakan, tetapi hanya dengan menulis; inilah fakta menyebalkan dan menyakitkan bahwasanya menulis tidak berbeda dengan pekerjaan lainnya.&lt;br /&gt;Susan adalah seseorang yang telah memilih menulis sebagai pilihan pekerjaannya. Dengan begitu ia bisa merumuskan tujuan, langkah-langkah dan strategi untuk mewujudkan pencapaian di setiap tahapnya. Seperti halnya pekerjaan lainnya, Susan juga mengalami kendala dalam menulis. Dan seperti bagaimana orang lain menyelesaikan hambatan dalam pekerjaannya, Susan juga memilih teori dan penyelesaian yang tak jauh berbeda.&lt;br /&gt;Susan sadar betul, sebagai sebuah pekerjaan, menulis juga membutuhkan cara bertahan dari terpaan krisis. Naskah yang selalu ditolak, dokumen naskah hilang, keuangan yang carut marut, adalah hal lumrah seorang penulis di awal karirnya. Pada titik ini seorang penulis tak boleh menyerah. Keadaan justru sering kali terbalik pada titik ini. Yang perlu dilakukan adalah tetap bekerja teratur setiap hari, meskipun dengan waktu yang sangat terbatas, dan setia pada tujuan awal. Cita-cita untuk menjadi penulis dan terus menulis. Karena menulis sudah menjadi pilihan pekerjaan.&lt;br /&gt;Dan pekerjaan menulis itu harus dimulai. Segera setelah niat dan cita-cita itu terpatri di hati. Sekarang, hari ini. Duduk dimeja dan mulai menulis. Tentang apapun. Tak perlu berpikir. Tulis saja semuanya apa adanya. Jangan lagi ada penundaan. Apa yang ada hari ini akan berbeda dengan esok hari. Setiap hari meiliki kisah dan mimpi yang berbeda.&lt;br /&gt;Lompatan-lompatan pemikiran itu disusun dengan apik dan sederhana dalam buku meditasi untuk penulis yang ditulis Susan berdasarkan pengalamannya selama bekerja sebagai penulis. Susan membagi setiap halaman untuk sebuah bahasan yang bisa dibaca secara acak. Di tiap halaman ia mengutip kalimat-kalimat menggugah dari penulis lain yang telah lebih dulu mengalami masa-masa sulit kepenulisan. Kemudian ia membuat perenungannya. Lalu membangun sebuah kalimat untuk membangkitkan semangatnya sendiri. Sebuah motivasi dari dalam diri.&lt;br /&gt;Topik motivasi yang dikembangkan Susan hampir mirip dan berulang. Ini memang sesuai dengan pengalaman kebanyakan penulis. Hambatan yang sama seringkali terulang lagi di masa yang berbeda. Dalam kondisi yang berbeda ini maka penyelesaiannya bisa sama bisa juga berbeda. Susan berusaha menghimpun yang terserak itu hingga siapa saja yang ingin menjadi penulis bisa membaca buku itu. Kapan saja,mulai dari mana saja tak masalah. Tanpa harus membaca keseluruhan isinya, Susan menghadirkan bacaan yang memang digunakan untuk penenangan penulis yang resah. Untuk itu ia harus ringan dan tak menambah beban.&lt;br /&gt;Pemberian kesan ringan dan mendorong ini juga terlihat dalam pemilihan ukuran kertas. Bentuk kertas memanjang untuk jumlah baris yang tak terlalu penuh memberikan ruang kosong yang cukup bagi pembacanya untuk menuliskan sesuatu setelah membaca. Jenis dan ukuran huruf, jarak antar baris, dan garis tepi yang digunakan juga cukup memudahkan pembaca untuk membaca cepat. Penulis pemula atau kawakan sekalipun, perlu membaca tulisan Susan ini. Caranya melahirkan ilham dan semangat baru bisa menjadi meditasi yang menenangkan bagi penulis yang tengah berproses.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-74893253464819562?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/74893253464819562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/03/aku-bisa-menulis-buku-meditasi-untuk.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/74893253464819562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/74893253464819562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/03/aku-bisa-menulis-buku-meditasi-untuk.html' title='Aku Bisa Menulis!: Buku Meditasi untuk Para Penulis'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/ScSoCF2B0EI/AAAAAAAAC5E/eLTU0b3Mz8k/s72-c/cover.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-7835946962050876136</id><published>2009-02-04T03:56:00.001-08:00</published><updated>2009-02-04T03:58:06.883-08:00</updated><title type='text'>Mala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.iddaily.net"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 84px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SYmCpD6MYyI/AAAAAAAACsU/8MTs0GCs9UY/s200/mala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298910078513734434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Judul : MALA : Tetralogi Dangdut 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis : Putu Wijaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tahun terbit : april 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Editor : Kenedi Nurhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tebal : viii+336&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimensi : 14×21cm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ISBN : 978-979-709-360-0&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Harga : Rp.54.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALA akhirnya bersedia mengakui bahwa dia adalah pelaku mutilasi pada korban yang diakui sebagai Midori, bintang film panas sekaligus sahabatnya itu. Sahabat yang telah menyeretnya pada sebuah konspirasi politik yang tidak dikehendakinya.&lt;br /&gt;Pengakuan itu dilakukan MALA dengan jaminan bahwa NORA,istri yang kekasihnya tidak akan dibunuh. Cintanya pada NORA yang lugu dan sederhana itu ternyata mampu membuatnya bersedia mengorbankan hal-hal terpenting dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama MALA berada dalam penjara, kantor media tempatnya bekerja telah mengalami perubahan besar. Gedungnya sudah tak lagi tua dan kumuh. Berubah menjadi gedung menjulang tinggi. Adam, yang mengaku sebagai sahabatnya, yang juga sekaligus menyeretnya masuk penjara, menjadi salah satu jajaran pimpinan bersama Budi, wartawan yang dulu menulis tentang Midori dan menyudutkannya. Saras, wartawan yang dulu sering bertengkar dengan Budi, atas nama cinta akhirnya menyerah pada pelukan Budi dan menjadi istrinya, mereka dianugrahi dua orang anak. Saras,Budi, yang dulu begitu idealis itu telah berubah menjadi manusia yang silau pada kemewahan dan kemapanan. Adam menguasai mereka dengan materi hingga mereka kehilangan nalar kritisnya. Semua menjadi nisbi.&lt;br /&gt;“Dan kita mau saja dikuasai karena kita tergantung…hidup enak ini telah membuat kita menjadi lemah dan lembek”(4 8)&lt;br /&gt;Kantor kecil itu ternyata penuh konspirasi besar, sarat akan kekuasaan. Adam begitu licin dan licik memainkan peran. Skenario disusun dan dimainkannya dengan indah, halus dan lembut. MALA sengaja disingkirkan karena dianggap menggalang gerakan makar di kantor dengan mempekerjakan orang-orang yang ‘tidak bersih lingkungan’.&lt;br /&gt;“Waktu itu kita dihadapkan kepada dua pilihan. Membela satu orang yang tidak bersalah, tapi menghancurkan hidup ratusan orang yang bergantung pada perusahaan. Atau manunda,sambil mencari waktu yang tepat untuk mengembalikan kebenaran pada kebenaran dan keadilan pada keadilan. Sebab kalau waktunya tidak tepat, kebenaran dan keailan hanya akan menjadi teori indah yang tak berguna. “ (45)&lt;br /&gt;Pimpinannya bertekuk lutut pada seseorang yang ditelepon selalu berkata “dari pada demikien…. Bla bla bla Diusahaken bla bla bla…” Adam menurut karena punya ambisi ingin jadi presiden. Untuk itu dia harus dicalonkan partai. Partai mau menerima asal Adam menguntungkan partai. Untuk mewujudkan itu, medianya harus ‘bersih’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara MALA semakin dilupakan setelah bertahun-tahun kasusnya berlalu. Media tak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘penting’. Tak ada lagi yang terlalu peduli tentang kebenaran bahwa MALA benar membunuh atau tidak. Tak ada lagi yang ingin tahu siapa sebenarnya pembunuh Midori, atau benarkah itu mayat Midori. Berita tentang kebebasannya pun hanya mengisi kolom kecil disudut Koran, kalah dengan head line berita KAKEK MEMPERKOSA CUCUNYA KETIKA LAGI SHALAT. Kebenaran bisa menjadi begitu salah dan begitu benar ditangan pers. Pers mempunya kuasa yang begitu besar untuk menentukan sebuah kebenaran. Pers mempunyai control utama pada apa yang akan diperhatikan orang dan apa yang akan diabaikan. Dan Adam memainkannya dengan mulus. “Apakah artinya kebenaran kalau bertahun tahun menghilang. Apakah ini akan kembali benar dalam kehidupan sekarang yang sudah sangat berbeda. …” (31) “Sebuah berita kecil lewat dan tidak ada orang yang peduli. Padahal dalam berita itu ada lorong untuk membaca kebenaran. “(39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALA tak lagi mempedulikan apakah dia masih penting atau tidak bagi teman-teman dan orang lain. Yang penting baginya setelah bebas adalah menemukan kembali NORA dan mencintainya, memberinya belaian, kecupan, percintaan yang selama ini hanya ada dalam hayalnya. Dia akhirnya sadar bahwa NORA adalah sebagian dari hatinya.&lt;br /&gt;“ Hanya kamulah yang masih kumiliki sekarang, karena semua orang tak ada di tempatnya ketika aku memerlukan . Hanya kamulah yang masih terus menjadi titik yang tak bergerak, tempatku memandang. Hanya kamulah rumahku, tempat aku rindu dan kembali, meskipun kamu mungkin tak setuju. Aku mencintaimu,NORA,”&lt;br /&gt;Sayang NORA tak pernah tau isi surat itu, dia hanya bisa membaca namanya disurat itu, dan itu saja cukup untuk membuatnya berbunga-bunga. Hal sepele yang tak perlu repot untuk membuatnya bahagia. Menemukan namanya ditulis MALA dalam suratnya, tak peduli apa isinya. NORA pun mencintai MALA,menunggunya bebas, menanti percintaan dengannya, dan terus menunggu MALA bergerak mendekatinya. Tapi yang didapatinya adalah MALA pergi dengan meninggalkan sebuah buku catatan. Buku yang berisi tumpahan kecintaan, kerinduan, dan kekecewaannya pada NORA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALA merasa hidupnya tercabik dan terlempar begitu jauh. Dia merasa pengorbanannya sia-sia. Dia pertaruhkan hidupnya, karirnya, masa depannya untuk mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya, hanya demi kecintaannya pada NORA. Tapi yang didapatinya adalah pengkhianatan(menurut anggapan MALA). NORA menikah dan bercinta dengan orang lain, sementara dia menahan seluruh hasratnya dan berharap NORA hanya akan menjadi miliknya satu-satunya seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NORA tak mengerti mengapa MALA pergi, dia merasa tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bergerak sebagaimana tubuhnya mengalir. Dia bicara dengan bahasanya, bukan bahasa MALA. Dia masih menunggu dengan setia, membeiarkan dirinya tetap perawan, dan berharap MALA akan kembali. Tapi MALA tak pernah kembali. Selamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-7835946962050876136?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/7835946962050876136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/02/mala.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/7835946962050876136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/7835946962050876136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2009/02/mala.html' title='Mala'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SYmCpD6MYyI/AAAAAAAACsU/8MTs0GCs9UY/s72-c/mala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-1241958923089590626</id><published>2008-12-17T18:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T19:01:13.972-08:00</updated><title type='text'>Suara Senyap Lembar Kebudayaan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.iddaily.net/"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280955834393298178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 142px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SUm5WgeKBQI/AAAAAAAAChM/-8cIsFu6n-g/s200/lkra.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Judul: Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965&lt;br /&gt;Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan&lt;br /&gt;Penerbit: Merakesumba, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2008&lt;br /&gt;Tebal: 528 halaman (termasuk indeks)&lt;br /&gt;Pledoi Sejarah Kebudayan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;"Sejarah senyap adalah sebuah metode dan usaha menggali kuburan ingatan kolektif dari persemayaman yang dipaksakan; sebuah ikhtiar mencabuti kembali patok-patok nisan tanpa nama dan mendengarkan tutur dari alam kubur kebudayaan Indonesia tentang apa yang sesungguhnya terjadi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emboss palu-arit tercetak samar di kertas putih bersih itu menghadirkan kembali rasa getir trauma masa lalu. Judul dengan warna merah menyala di samping logo penerbit bak darah mengalir, mengingatkan pada betapa banyak darah tertumpah yang menjadi tumbal gambar itu.&lt;br /&gt;Desain sampul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan ini dibuat jelas bukan tanpa alasan. Selain peraturan pelarangan gambar itu masih belum dicabut, sehingga perlu disamarkan jika tak ingin kena ‘tilang’ pihak berwenang, Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dalam sejarah memang selalu berada dalam bayang-bayang partai berlambang dua benda tajam senjata kaum tani itu, PKI (Partai Komunis Indonesia). Jika Lekra maka PKI, karena PKI maka (pasti) jahat, kejam, sadis, pembuat onar, dan layak digorok. Sebuah penyamarataan yang keblinger berpuluh tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhoma dan Muhidin adalah dua orang muda yang usianya belum juga genap 30, tapi kepeduliannya pada dokumentasi sejarah bangsa begitu besar. Rhoma adalah periset muda yang telah melahirkan pelbagai karya sejarah seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia, dan Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008). Muhidin adalah penulis muda yang namanya wira-wiri di media nasional dan telah melahirkan berpuluh buku sastra maupun esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah pemimpin riset Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia yg ditulis 25 penulis muda yang usianya masih di bawah 25 tahun. Mereka berdua ini selama 17 bulan dengan getih menyusuri kembali lembar demi lembar Harian Rakjat dalam lembab almari perpustakaan sunyi di pusat kota Jogjakarta dengan satu semangat: selamatkan aset sejarah sebelum kalah dengan rayap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 15 ribu artikel budaya Harian Rakjat dalam ejaan lawas dan tulisan kecil-kecil mereka baca dengan tekun, mereka catat bagian-bagian pentingnya (karena tidak boleh menggunting apa lagi menfotokopi karena merusak kertas yang sudah rapuh itu), untuk kemudian menuliskannya kembali dengan beberapa tambahan intepretasi. Mereka menyuguhkan dengan apa adanya peristiwa-peristiwa kebudayaan yang terjadi sepanjang rentang waktu revolusi 1950-1965. Fakta demi fakta diuraikan. Dan hasilnya: Lekra tak hanya mengurusi soal sastra yang selalu diperdebatkan dengan Manikebu, tapi Lekra juga mengurusi film, musik, seni tari, seni pertunjukan (ketoprak, wayang, ludruk, drama, reog), buku, pers, dan kebudayaan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Untuk Prahara Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, meski disebut sebagai “buku putih”, tapi bukanlah sebuah pledoi buta terhadap Lekra. Ia adalah ikhtiar memberi kesempatan bagi mereka untuk berbicara apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan semasa kurun 15 tahun yang bergemuruh itu.&lt;br /&gt;Jika boleh disandingkan, buku ini adalah jawaban paling serius dari Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI yang disusun DS Moeljanto (DSM) dan Taufik Ismail (TI) sekira tahun 1995 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI dalam pengantarnya mengatakan bahwa Prahara Budaya disusun dengan ketulusan hati ingin meluruskan sejarah. Buku itu ditujukan bagi pembaca muda yang tak mengalami peristiwa tersebut. Sementara Muhidin dan Rhoma dalam pengantarnya mengatakan bahwa Lekra Tak Membakar Buku ditujukan untuk mengingat kembali peran Lekra dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu dengan apa adanya agar generasi yang tak mengalami peristiwa tersebut memperoleh informasi sejarah yang berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Prahara Budaya bersampul “merah” itu disusun oleh dua budayawan lanjut usia (baca: tua) yang sangat antipati terhadap Lekra, maka buku ini disusun dua orang muda enerjik dari masa yang sudah sangat jauh berbeda tatkala Lekra berdiri kukuh. Meski ketebalan hanya berbeda kurang dari 60 halaman, tapi perbedaan di antara keduanya terlihat prinsipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Prahara Budaya, tak jelas disebutkan posisi DSM dan TI sebagai apa selain nama mereka tercantum disampul—mungkin lebih tepat jika disebut editor jika bukan kolektor—dari kliping koran, majalah, dan makalah kebudayaan di seputar tahun 60-an. Dokumen-dokumen itu disajikan mentah, sedikit pengantar dan komentar di bawah, yang kadang tak ada kaitannya dengan bahasan di atasnya, dan perubahan judul (tanpa penjelasan mengapa diubah dari aslinya) di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pengantar yang dibuat TI pun lebih banyak mengungkap ketaksetujuannya atas dasar iman dan pengalaman subjektif; tak terungkap argumen yang sifatnya ilmiah. Sistematika penyusunan dan kronologi peristiwanya juga tak tertata dengan baik. Sehingga buku ini sangat jauh dari ilmiah—lebih tepat disebut buku pembunuhan telak Lekra. Lebih banyak menyajikan konflik, saling tuduh, saling tuding, dan maki bak prahara seperti judulnya. Hasilnya adalah sebuah pembangunan opini bahwa Lekra adalah organ kebudayaan kaum preman yang tak berotak, tukang keroyok, dan pembuat onar panggung kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Lekra Tak Membakar Buku, dihadirkan dengan sistematika dan kronologi yang runtut. Mulai dari apa dan bagaimana Lekra berdiri, kemudian riwayat Harian Rakjat sebagai corong utama kerja-kerja seniman Lekra, dan lantas satu demi satu diuraikan bagaimana kerja Lekra dalam bidang sastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, buku dan penerbitan. Melalui riset mendalam (seperti yang selalu diajarkan seniman organik Lekra), sepak-terjang seniman dan pekerja budaya Lekra menghalau serangan imperialisme budaya dan modal yang bersekutu dengan kekuatan feodalisme lokal diulas ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sesekali memasukkan kutipan-kutipan dari sumber asli disertai catatan rujukannya. Juga dilampirkan keterangan akronim, berikut data-data hasil rapat, susunan pengurus, anggota pimpinan pusat, pengumuman, dan keputusan-keputusan penting Lekra dari rapat-rapatnya. Sungguh ini merupakan buku pertama mengenai Lekra yang sangat komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja Kreatif Seniman Lekra Di Panggung Kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “panggung” Lekra Tak membakar Buku ini, terungkap banyak realitas menarik yang banyak tak diketahui publik. Di antaranya adalah instruksi pada semua utusan Kongres I Lekra dari seluruh cabang di Indonesia pada Januari 1959 agar tak hanya membawa bahan untuk diperdebatkan, tetapi juga membawa alat musik, mainan anak-anak, kerajinan tangan, pakaian daerah, cerita-cerita, ornamen-ornamen, penerbitan, dan lagu-lagu daerah masing-masing. Semua itu digelar dalam sebuah bazar besar sehari sebelum hingga kongres berakhir. Pengunjung pameran mencapai 15000/malam; sebuah jumlah yang tak kecil pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekadar memajangnya, mereka juga mematok program untuk menginventarisasi kekayaan-kekayaan cipta budaya Nusantara yang terserak ribuan jumlahnya itu sehingga tak dicaplok bangsa lain seperti kasus lagu Rasa Sayange atau Reog Ponorogo beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Seniman-seniman Lekra juga giat menyerukan agar pemerintah memperkeras sikap dengan gambar-gambar dan lukisan cabul dalam bentuk dan kegunaan apa pun seperti ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainya. Kita tak perlu ribut dengan kontroversi RUU pornografi hari ini jika saja mendengarakan apa kata seniman Lekra puluhan tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekra demikian tegasnya melakukan kerja budaya yang segaris dengan prinsip manipol, menentang keras imperialism dan memberdayakan kebudayaan dari dan untuk rakyat. Kesenian-kesenian pertunjukan yang mulanya hanya dapat dinikmati kalangan terbatas karena kungkungan budaya feodalisme mulai dikembalikan dan dibuka untuk bisa dinikmati rakyat seluas-luasnya. Keprihatinan akan fenomena miskinnya anak-anak kecil akan lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu dewasa tentang cinta-cintaan yang cengeng, mendorong Lekra untuk membahasnya secara serius dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Fenomena ini tak jauh berbeda dengan kondisi nyata jagat musik kita saat ini. Setiap hari di televisi, kita disuguhi anak-anak kecil yang beradu suara dalam lomba menyanyi, dan lagu-lagunya jenis lagu dewasa. Adakah yang peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekra tak membiarkan anggotanya menempuh jalan kebudayaan dengan ugal-ugalan. Setiap seniman mesti bertanggung jawab pada rakyat yang menjadi basis dayaciptanya. Lekra juga menekankan agar dalam proses mencipta (seperti sastra) selalu melalui riset ilmiah bukan ongkang-ongkang kaki sambil merokok dan menenggak alkohol. Sikap Lekra Jelas di sini bagaimana Lekra berpihak dalam peran budayanya dengan memundaki tiga asas: Bekerja Baik, Belajar Baik, Dan Bermoral Baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang perbukuan, Lekra menunjukkan bahwa pameran buku digelar bukan semata untuk kepentingan bisnis, tetapi juga ideologi. Dalam pameran bisa dilihat siapa saja yang mengikuti pameran dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Disinilah perang ideology propaganda politik melalui media literer itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekra Tak Membakar Buku adalah sebuah pembelaan atas tuduhan yang sering dilontarkan “lawan” budayanya pada masa itu. Salah satunya adalah bahwa Lekra organ budaya pembakar buku. Buku ini bersikap jelas dan tegas: TIDAK! Lekra percaya bahwa buku mampu mengubah dunia, tapi tidak sembarang buku. Buku yang mampu “mengubah” adalah buku yang isinya digali langsung dari perikehidupan rakyat melalui gerakan turun ke bawah dan bukan mimpi-mimpi kosong yang melulu menjual kepalsuan hidup dari kamar salon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekra memang melakukan “teror” atas buku-buku penandatangan Manikebu dan juga pentolan-pentolan Masjumi dan PSI yang terlarang. Tapi Rhoma dan Muhidin ini memberi dalih bahwa dari lembar-lembar Harian Rakjat tak ada ditemukan bukti-bukti bahwa Lekra secara individu maupun kelembagaan telah mengorganisir pembakaran buku yang mereka tak sukai.&lt;br /&gt;Lekra dan PKI ‘Buku putih’ ini juga sekaligus meluruskan asumsi publik akan posisi Lekra terhadap Partai Komnis Indonesia. Jika selama ini Lekra selalu diidentikkan dengan PKI, maka dua penulis muda ini mencoba memberikan perspektif lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang sepenuhnya diselenggarakan oleh PKI, Memang banyak seniman-seniman Lekra yang turut terlibat, namun kapasitasnya sebagai individu yang mengaku sebagai seniman “progresif revolusioner” dan bukan sebagai Lekra secara kelembagaan. Dalam perjalanannya, tak pernah ada nama Lekra disebut-sebut dalam kongres ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ada bukti factual bahwa Lekra pernah menjadi underbow PKI secara institusional. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI. Akan tetapi, Lekra juga tidak sepenuhnya bersih dari pengaruh PKI. Lebih tepat jika hubungan Lekra-PKI ini disebut sebagai hubungan ideologis, demikian agumen Muhidin-Rhoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari beberapa kesalahan ketik di sana sini yang cukup mengganggu kenyamanan membaca, kita layak member apresisi pada buku ini sebagai sebuah dokumen sejarah yang disusun anak muda generasi sekarang dengan “semangat ilmu pengetahuan” dan keseriusan di atas rata-rata. Muhidin dan Rhoma menasbihkan buku ini sebagai sebuah dokumen pelurusan sejarah kebudayaan kita yang hilang dan terputus atas nama dendam politik yang terus diwariskan pada generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini adalah Ketua Forum Nusantara Madani, pecinta buku, tinggal di Surabaya.&lt;br /&gt;Alamat : Karangrejo V No : 6 Surabaya&lt;br /&gt;No Rek : 99998194&lt;br /&gt;Telp : 085 232 444 023, 081 7938 1188&lt;br /&gt;E-mail : dee_5454@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-1241958923089590626?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/1241958923089590626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2008/12/suara-senyap-lembar-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/1241958923089590626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/1241958923089590626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2008/12/suara-senyap-lembar-kebudayaan.html' title='Suara Senyap Lembar Kebudayaan'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/SUm5WgeKBQI/AAAAAAAAChM/-8cIsFu6n-g/s72-c/lkra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2843919558205802962.post-8744133265818137738</id><published>2008-12-03T23:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T23:11:50.009-08:00</updated><title type='text'>The Rules of Life</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.iddaily.net/"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275829010265567698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 128px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/STeCiESUcdI/AAAAAAAACfE/X4S8mzwiQ5c/s200/rules_of_life.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;JUDUL : THE RULES OF LIFE&lt;br /&gt;Aturan Pribadi Untuk Hidup Lebih Baik, Bahagia, Dan Sukses.&lt;br /&gt;Penulis : Richard Templar&lt;br /&gt;Penejemah : Sigit Purwanto&lt;br /&gt;Cetak : 2008&lt;br /&gt;Tebal : 226 + Xiii&lt;br /&gt;Penerbit : Esensi, Erlangga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagiakah anda menjalani hidup ini? Apakah anda merasa bingung menentukan arah hidup? Apakah anda gagal dan sulit memaafkan kesalahan diri sendiri? Apakah anda memendam dendam? Apakah hidup anda membosankan? Apakah anda sedang putus asa? Apakah anda tidak betah dirumah? Apakah anda dijauhi rekan kantor? Apakah anda merasa tak berati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda menjawab lebih dari dua rentetan pertanyaan diatas denagn jawaban YA, maka anda perlu untuk segera membaca buku THE RULES OF LIFE karya Richard Templar ini. Seperti halnya sub judul yang tertera, Rules of Life adalah sebuah aturan pribadi untuk hidup lebih baik, bahagia, dan sukses. Berisi 50 ‘aturan-aturan’ untuk diri anda, 16 aturan berpasangan,13 aturan keluarga dan teman, 13 aturan social, dan 8 aturan dunia, Richard ingin membantu anda untuk mengingat kembali tujuan hidup anda dan merumuskannya dengan sederhana,jelas, dan dapat diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard menulis, banyak orang yangmenjalani kehidupan dengan sukses, bahagia, penuh kesyukuran, dan dapat mencapai banyak hal. Banyak pula yang merasa tidak bahagia, kehilangan sesuatu dalam dirinya, dan menghabiskan waktu untuk menunggu keajaiban yang memberinya inspirasi. Sebenarnya perubahan hanya masalah kemauan untuk melakukan sedikit perubahan kecil pada perilaku kita. Kebahagaiaan dan kebermaknaan hidup tentu dapat diwujudkan. Memang sulit, tapi sebenarnya begitu sederhana dan dapat dicapai. Tinggal seberapa besar kemauan kita untuk mejadikannya wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum merumuskan langkah-langkah untuk menjadikan hidup bermakna dan kita bahagia menjalaninya, kita harus mengetahui makna kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Apakah hal-hal yang membuat kita bahagia? Apakah melakukan hal-hal yang buruk membuat kita benar-benar bahagia? Kita harus bisa menemukan kebahagiaan kita sendiri karena hanya kita yang paling tahu diri kita sendiri. Setelah itu kemudian kita diingatkan untuk selalu mendedikasikan hidup kita untuk sesuatu. Terserah anda, apapun itu,asal baik menurut anda, dan membuat anda ingin mencapainya. Dari sini kita jadi jadi tahu kemana arah tujuan hidup ini akan kita bawa. Setelah itu kita akan menentukan standard kehidupan. Apakah kita cukup bahagia jika yang tercapai hanya30%? Ataukah kita baru bahagia jika semua tujuan itu tergapai. Masing-masing orang mempunyai standar berbeda. Standard ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan setiap langkah yang nanti akan kita rumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard kemudian menggiring kita pada 50 aturan kehidupan yang membantu kita untuk memilah-milah dan menentukan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang akan kita ambil mana yang akan kita buang. Mana yang akan kita ikuti mana yang akan kita tinggalkan. 50 aturan memang banyak, dan kita bukan malaikat yang akan mampu sempurna menjalankan/mematuhi aturan tersebut. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Catat baik-baik dan jadikan pengingat setiap kali kita mengalami hal yang sama. Dari sini kita akan menemukan identitas diri sesuai dengan yang kita kehendaki tanpa mengabaikan kemungkinan lain diluar kita yang mungkin bertentangan. Selalu ada cara untuk menghadapi lawan secara bijaksana, dan Richard memberikan beberapa tipsnya disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang mempunyai masalah dengan pasangan, Richard memberikan 16 aturan mendasar yang mungkin bisa membantu anda memperbaiki hubungan. Richard memberikan paparan sederhana dan menuliskan kunci penting dari dua orang yang berbeda dan tentu saja memiliki aturan kehidupan yang berbeda pula. Seperti banyak ahli katakan, menghormati dan menjaga privasi pasangan adalah kunci penting. Memberi kesempatan pasangan untuk menjadi diri sendiri, bersikap baik, meminta maaf lebih dulu, berusaha lebih keras untuk membahagiakannya, serta mngetahui kapan harus bicara dan kapan harus mendengar adalah beberapa aturan yang mesti kita jadikan evaluasi hubungan kita. Jika masih tidak ketemu, maka review ulang tujuan bersama perlu dilakukan. Dari sini anda akan bias merumuskan langkah-langkah yang perlu anda lakukan bersama pasangan untuk mewujudkan tujuan hidup anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih luas lagi, Richard memandu kita untuk melihat lagi kualitas hubungan kita dalam keluarga dan teman-teman kita. Kita diajak membuat garis sendiri bagi target yang telah kita tentukan diawal. Mana aturan yang akan kita ambil dalam menjalin relasi perkawanan dan keluarga, Richard memberikan 13 aturan utama. Anda akan dingatkan bagaimana anda bersikap sebagai orang tua pada anak dan sebagai anak kepada orang tua. Keduanya mempunyai relasi yang berbeda. Kita akan bisa melihat bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh tujuan hidup kita terhadap keluarga dan kawan-kawan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dapat memilih aturan untuk bergaul dalam keluarga dan teman, lebih luas lagi kita akan dipandu memilih aturan dalam bergaul di lingkungan sosial yg lebih luas lagi. Richard mengingatkan hal-hal yang akan membantu kita mencapai tujuan hidup, dan hal-hal yang justru akan mengganggunya. Kita juga diajarkan untuk memikirkan manfaat tujuan hidup kita itu bagi mereka. Kita mesti memikirkan efek jangka panjang dari tujuan hidup kita itu, juga langkah-langkah yang telah kita rumuskan diawal, sehingga kita akan terdorong untuk selalu berpikir dan bersikap baik dengan moral yang tinggi karena rasa tangung jawab social itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Richard mengajak kita membuka mata lebih lebar, melihat akibat yang ditimbulkan bagi dunia dari tujuan hidup, langkah untuk mencapainya,serta pilihan aturan yang telah kita tentukan untuk kita ikuti diatas. Kita mesti mempertimbangkan bagaimana sejarah akan mencatat kita. Sebagai orang baik yang bermanfaat bagi keluarga, teman, lingkungan social, dan bahkan dunia, atau justru sebaliknya, merusak. Kita harus memikirkan kehidupan kita jika kita ingin berhasil dalam hidup ini. Kehidupan ini mesti diberi makna dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita diatas bumi ini menjalani kehidupan dengan hikmat, bukan sekedar mayat hidup yang menjalankan takdir kehidupan tanpa upaya. Hidup harus bermakna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;COMMENT : Buku ini sesuai untuk motivasi diri. Disajikan dengan lay out yang sederhana, mudah diingat, dan ringkas. Kita bisa membukanya sewaktu waktu, di sembarang halaman, membaca sebagian dan akan menemukan sebuah inspirasi. Atau sekedar membaca kalimat-kalimat penting yang dicetak khusus dalam kotak insert, untuk mengingatkan kita ketika lemah motivasi dan butuh semangat untuk memulai/bangkit lagi dari keterpurukan kecil. Buku ini bukan sekedar chicken soup, it is a complete breakfast.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2843919558205802962-8744133265818137738?l=bookforgood.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bookforgood.blogspot.com/feeds/8744133265818137738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2008/12/rules-of-life.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/8744133265818137738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2843919558205802962/posts/default/8744133265818137738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bookforgood.blogspot.com/2008/12/rules-of-life.html' title='The Rules of Life'/><author><name>Iman D. Nugroho</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pshw_FmYGOI/STeCiESUcdI/AAAAAAAACfE/X4S8mzwiQ5c/s72-c/rules_of_life.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
