Kamis, 12 November 2009

Membaca Fiksi dalam Tanda-tanda Nano

Judul : Sign Fiction :The Art Of Nano Warsono
Karya : Nano Warsono
Penerbit : Langgeng Gallery
Edisi : Pertama, April 2009 (500 exp)
Ukuran : 25cm x 21 cm
Tebal : 203 + xxviii
Genre : Buku Visual

Sign Fiction: The Art of Nano Warsono, begitu ia memberi tajuk monografnya. Nano Warsono, perupa asal kota Gandul, Wonogiri yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, bukan sekedar membuat sebuah album karya atau kronik rekam jejaknya berkesenian, tapi ia tengah memindahkan galeri dimana karya-karyanya pernah dipajang, ke dalam media yang lebih kecil: buku.

Melalui buku, Nano membawa pembacanya untuk berlama-lama menikmati dan menyelami setiap karyanya. Buku itu bisa dibaca berkali-kali tanpa terbatas waktu seperti bila pameran di galeri. Begitu buku dibuka, karya itu tergelar dan siap dinikmati dengan atmosfer yang berbeda-beda.

Dengan buku, Nano memberi kesempatan lebih banyak orang untuk ‘membaca’ karya senirupanya. Itu berarti juga membuka peluang lebih besar agar pesan-pesan dalam karya Nano turut pula menyebar meluas. Dan seperti umumnya karya seni, pesan-pesan itu tidak tersurat namun tersembunyi dibalik tanda-tanda yang tak nyata, fiksi.

Tanda-tanda fiksi itu disajikan Nano dalam serangkaian bab yang disebut Hendro Wiyanto dalam pengantarnya sebagai “panel-tunggal-fiksi-sejarah bergambar”. Maka Nano pun mengajak pembacanya untuk mencari tanda itu dengan mengamati perjalanannya di jagad senirupa melalui karya Drawing & Comic (gambar dan komik), Painting (Lukis), Mural, dan Sculpture (patung).

Meski ia menggunakan aneka media garapan untuk gambar, mural, patung, instalasi, sampai lukis, namun ada satu kesatuan yang utuh dalam karyanya. Dan itu hanya bisa dinikmati bila dibaca runtut. Tentu sangat memungkinkan bila karya ini ingin dinikmati secara acak. Seperti halnya karya yang dipajang di dinding galeri, ia bisa dinikmati dari mana saja, tidak mesti dimulai disatu titik dan diakhiri di titik tertentu pula.

Dalam bab Drawing&Comic yang menghabiskan 2/3 bagian dari seluruh halaman Sign Fiction, terlihat sekali tema-tema yang diangkat Nano melalui karyanya adalah semacam kegelisahan dan pemberontakan akan realitas yang ditemuinya semasa tahun 90an hingga awal 2000an. Masa dimana ia masih seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia di Jogja, juga masa dimana Indonesia sedang mengalami transisi kepemimpinan nasional dan carut perekonomian. Masa ini terkesan suram dan berat dalam karya Nano. Ada kegelisahan dan pemberontakan yang demikian berat tersirat melalui garis hitam, karakter seram, dan kutipan-kutipan bernada satirnya.

Beragam sekali aspek yang ditampilkan Nano di bab ini. Nano seperti ingin menunjukkan bahwa masa pencarian yang ia lakoni bersama gambar dan komiknya adalah masa yang bukan saja rumit tapi juga berat. Ada paradoks antara apa yang ia baca dan ia lihat. Ada ketimpangan antara barat dan timur. Nano melihat efek sosial setelah budaya barat dan globalisasi merajai segala sendi kehidupan.

Nano membaca bagaimana ketika manusia semakin takhluk pada tehnologi, ketika informasi dikuasai tehnologi, ketika mesin mengalahkan manusia bahkan mendorong manusia menjadi mesin yang kehilangan naluri kemanusiaannya, Nano membaca itu sebagai realitas yang perlu dipertanyakan ulang maknanya.

Nano juga mempertanyakan kembali makna pahlawan ditengah serbuan tehnologi canggih. Maka kemudian muncul tokoh-tokoh superhero macam Batman yang menjadi Badman. Atau Osama bin Laden yang berada diatas seluruh superhero macam Superman, Spiderman, Heman, dan sebagainya. Ada pula superhero yang mejadi jahat dan penjahat yang digambarkan menjadi karakter baik.

Bab Drawing & Comic ini juga memperlihatkan bagaimana seorang Nano berproses dengan setiap pengalaman dan realitas dalam diri maupun diluar dirinya. Dengan menonjolkan obyek utama berupa botol, tubuh, dan pohon, Nano mengurai kegelisahan personalnya terkait teman, keluarga, kekasih, dan jati dirinya. Berbagai macam wacana yang ditemuinya bercampur dalam otaknya dan keluar mencari pemaknaan baru.

Kegelisahan akan wacana yang berkembang ini juga nampak dalam beberapa karya yang menonjolkan obyek-obyek seperti buku, simbol-simbol agama, nama-nama filsuf, ikon tehnologi, dan pola-pola gambar dengan karakter mind-mapping (peta pikiran). Juga terlihat pada petikan kalimat yang ia tulis dalam gambarnya, seperti “Dan memberontak adalah salah satu cara bertahan hidup yang tepat melawan kemapanan”, atau “Aku butuh sesuatu yang baru, bukan dogma-dogma yang kuno”.

Setelah menikmati gejolak kegelisahan dan perlawanan dengan nuansa hitam putih yang agak suram, pembaca akan diajak menilik karya Nano dalam wujud lukisan. Dalam karya ini, Nano terlihat seperti menemukan kecerahan dan keceriaan. Warna-warna mencolok dan berani membuat karakter lukisannya yang cenderung komikal semakin berkesan kuat dan keras. Disini Nano mulai menyatukan karyanya dalam satu tarikan tokoh komik yang ia pinjam untuk menyampaikan pesan pemberontakannya akan realitas masyarakat urban di sekitarnya.

7 halaman bab mengenai karya mural Nano, memberi pembaca sedikit gambaran kedalaman dan keluasan wacana dan wawasan seorang Nano, yang ketika itu diungkapkan pada media bebas semacam tembok, ternyata menghasilkan karya yang bukan hanya memiliki estetika tinggi namun juga pesan yang jelas. Karya mural Nano terjejak di Jepara, Jogja, dan Sanfransisco.

Meski tak terlampau banyak, Nano juga membuat patung. Karya patung yang dibuatnya sekira tahun 2001 masih menampakkan ornamen yang menunjukkan detil. Ini tak lepas dari latar belakang Nano yang dari Jepara dan dekat dengan tradisi ukir kayu. Setelah tahun 2006, patung yang dihasilkannya sudah mengikuti alur lukisannya: komikal dan berwarna mencolok. Dalam setiap karyanya, Nano seperti mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, merenung dan menemukan tanda-tanda pesan yang ingin ia sampaikan.

Persembahan karya visual itu diakhiri dengan sebuah diskusi mengenai Nano dan karya-karyanya. Transkrip wawancara yang dilakukan Rain Rosidi (seorang kurator senirupa) ini memberi gambaran bagaimana Nano memandang suatu karya senirupa. Juga dapat diketahui dasar filosofi Nano dalam berkesenian. Pilihan Nano untuk masuk dunia senirupa professional, dan perkembangan/perubahan karya-karyanya tercakup pula disini. Ditambah sedikit profil dirinya, kita akan memahami mengapa dan bagaimana karya-karya Nano bernuansa komik dan cenderung detil.

Sedikit kekurangan pada Sign Fiction adalah penggunaan bahasa Inggris pada judul Bab dan bagian Profile yang tidak diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Memang tidak mengganggu, hanya tidak konsisten. Penggunaan bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) semakin memungkinkan Sign Fiction untuk diterima masyarakat senirupa secara lebih luas. Buku ini tepat bagi mereka yang menekuni seni rupa dan membutuhkan tambahan referensi visual. Namun juga bisa dijadikan alternatif lain para penggemar fiksi.

Seperti lazimnya sebuah buku, Sign Fiction juga menyertakan pengantar. Kali ini pengantar itu dituliskan FX Widyatmoko Koskow (seorang cover designer, dosen ISI, dan juga editor visual Sign Fiction) yang mengambil judul Wonderline, Garis Negosiatif, Hendro Wiyanto (Kurator) dengan Post-Colonial Pop, dan Arahmaiani dengan Dunia Komik Dalam Karya Nano Warsono.

Pengantar ini memang membantu pembaca untuk mendapat gambaran kesatuan pesan dalam karya Nano, namun sebagaimana karya seni/sastra maka akan lebih nikmat bila karya itu dinikmati tanpa derecoki pendapat dari penikmat yang lebih dulu membacanya. Mengabaikan pengantar-pengantar itu sama baiknya seperti mengabaikan endorsement di sampul belakang buku best seller.
Buka saja bagian karyanya, dan temukan setiap tanda-tanda dalam fiksi gambar yang ingin disampaikan Nano. Karena setelah ide terlahir menjadi karya (baca: buku), maka ia bebas menghadapi sidang pembacanya. (Diana AV Sasa- Penulis Buku “Monumen Ingatan: 100 Seniman Indonesia Membaca Baca Bacaan”)

Minggu, 11 Oktober 2009

"Menjual" Indonesia Dari Dalam Taksi

JUDUL : Indonesia For Sale
PENULIS : Dandhy Dwi Laksono
EDITOR : Hadi Rahman
PENERBIT : Pedati
TEBAL BUKU : XV + 311
TAHUN TERBIT : Oktober, 2009
DIMENSI :
ISBN : 979-9682-09-6
HARGA : Rp. 52.000,-

Perjalanan Dandhy Dwi Laksono suatu siang di tahun 2009, seperti kunci untuk membuka kotak pandora. Mengetahui apa dan bagaimana melihat semua hal di Indonesia dengan kacamata yang sangat sederhana. Hingga sampai pada kesimpulan: Waktunya kita menjual Indonesia. Yup. Indonesia for Sale!

Bagi banyak orang, berbicara dengan sopir taksi dalam sebuah perjalanan, adalah hal biasa. Tapi tidak bagi Dandhy Dwi Laksono. Mantan jurnalis televisi ini justru menemukan banyak hal, saat berbicara dengan sopir taksi yang membawanya. Apalagi, perbincangan di sela kemacetan itu secara tidak sengaja mengurai berbagai persoalan di Indonesia. “Bang, macam mana, kok bisa harga bensin turun lagi? Tumben sekali pemerintah. Apa karena bensin tidak laku?...” Begitu Dandhy mengawali paragraf bagian pertamanya.

Perbincangan soal bahan bakar minyak (BBM) mengawali semua hal di buku ini. Masuk akal. Karena di Indonesia atau bahkan di dunia, BBM seperti buah saklar yang bisa digunakan untuk “menghidupkan” dan “mematikan” berbagai hal. Bila saklar itu dipencet, banyak hal yang akan terjadi. Yang paling gampang untuk diraba adalah, kenaikan itu merupakan komoditi. Komoditi? Bagaimana menjelaskan kenaikan BBM merupakan komoditi kepada sopir taksi? Di sinilah letak kepiawaian penulis kelahiran Lumajang, 29 Juni 1976 ini. Sekaligus merupakan keunggulan buku ini.

Dandhy memulainya dengan membuka tabir kerumitan perekonomian dunia dengan menjelaskan betapa minyak mentah (crude) diperdagangkan dengan international market place atau harga pasar internasional. Nah, di dalamnya ada spekulasi dan politik energi. Nah, karena itu juga, bukan tidak mungkin harga BBM akan naik turun mengikuti harga minyak dunia. Melalui topik yang sama, mantan koordinator liputan RCTI ini meraba pejelasan sederhana spekulan yang biasa bermain di future trading. Jangan pernah membayangkan penjelasan itu njilet (baca: rumit). Karena memang tidak seperti itu.

Pemakaian tokoh fiktif Mr. Smith di buku ini, memudahkan semua penjelasan itu. Hingga sampai pada kesimpulan, mengapa Indonesia, yang notabene negara penghasil minyak, justru didekte oleh pihak lain yang justru sama sekali tidak memiliki sumur minyak. Logika yang berbalik ini bagai menghempaskan nasib bangsa ini. Hal yang sama juga terjadi pada produk pangan. "Situasi seperti ini adalah gambaran (terlalu) sederhana dari jebakan struktural yang menciptakan kemiskinan tidak berkesudahan." tulis Dandhy.

Buku yang diawali dari sebuah diskusi antara Dandhy dan sang editor Hadi Rahman ini memang memiliki keunggulan “enak dibaca”. Tidak hanya oleh orang-orang yang memiliki hasrat yang sama untuk menyelamatkan Indonesia yang mulai “terjual”, tapi juga oleh orang-orang yang ingin memahami persoal pelik ekonomi politik dengan bahasa yang sederhana. Namun, kesederhanaan itu tidak kemudian menjadikan persoalan semakin tidak jelas. Bahkan, bisa-bisa kita hanya bisa geleng-gelang kepala sambil bergumam,”Ternyata, Indonesia memang dalam bahaya.”

Simak saja bagaimana Dandhy berbicara soal Neo Liberal atau akrab disebut Neolib. Kata ini sempat begitu terkenal saat Pemilihan Presiden RI 2009. Terutama saat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menggandeng Boediono sebagai calon wakil presiden RI. Nah, Dandhy secara lugas menjelaskan Neolib itu “Pokoknya lebih jekam dari PKI (Partai Komunis Indonesia).” Kok? Yang maksudnya, dengan ideologi Neolib, orang mati akan kesusahan untuk dikubur. Karena tanah kuburan perlu untuk dibayar. Hal itu terjadi lantasan dalam kacamata Neolib, semua hal itu ada harganya. Bahkan di Cikarang, Jawa Barat, ada tanah kuburan yang seharga milyaran rupiah. Komersialisasi semacam ini, menurut Indonesia For Sale menyandera kepentingan rakyat kecil.

Salah satu contoh yang dikutip Dandhy dalam buku ini adalah pengkaplingan pantai oleh instansi wisata dan perhotelan tertentu. Bagaimana bisa, pantai yang notabene adalah ciptaan Tuhan itu harus dikapling-kapling seperti yang terjadi di Anyer dan Ancol. Hal ini jelas tidak benar. Harus ada regulasi yang mengatur untuk boleh mengkomersilkan ciptaan manusia, tapi tidak untuk kekayaan alam yang ciptaan Tuhan. Dalam persoalan air misalnya. Siapapun bisa menjual air dalam kemasan, tapi tidak boleh mengkapling mata airnya. Begitu juga soal frekuensi yang tidak boleh dikangkangi oleh siapa pun.

Sayang, dalam sosok Boediono yang kini Wakil Presiden 2009 versi KPU, yang juga merupakan sosok yang sering ditunjuk hidung soal Neolib, Dandhy tidak secara tegas menunjukkan sikapnya. Lulusan Universitas Padjajaran Bandung jurusan Hubungan Internasional justru berputar-putar dengan komentar orang-orang lain tentang Boediono. Dalam bab selanjutnya, Dandhy asyik melembahkan sauh ke belakang. Mencari akar kebijakan Neolib dengan mempelajari liberalisasi ekonomi yang ditulis Adam Smith pada 1776.

Dengan kepiawaian yang dimiliki, Dandhy kembali cerdas mengulas bagaimana Adam Smith menjadi begitu diminati orang-orang digenerasinya. Bahkan sampai saat ini. Termasuk mengulas hubungan institusi agama yang menjadi pemicu berjutanya Adam Smith-isme. “Jadi kalau aku mengatakan bumi bulat dan tidak datar lalu aku dicambuk oleh agamawan karena dianggap kafir, aku pasti menjadi pendukung Adam Smith,” tulisnya. Namun, ketika atmosfir penulisan sudah menjadi begitu mengerucut, Dandhy menghempaskan dengan kenyataan bahwa sistem ekonomi modal ini kemudian bisa invalid, dengan munculnya modal-modal baru. Nah lu!

Keberanian Dandhy mengutip ajaran-ajaran Muhammad, memberikan warna tersendiri. Seperti menampar wajah kapitalis (baca: Neolib) yang seringkali dianggap “biasa”. Perdagangan modal sebagai akses perkembangan kapitalis sudah ditentang Nabi Muhammad ratusan tahun sebelum ajaran Adam Smith dituliskan. “Rasullah melaknat orang yang memakan riba,” kutip Dandhy dibukunya. Tidak hanya itu, ketika permainan harga bahan-bahan dimainkan oleh pasar international, Dandhy juga menemukan antipatinya dalam ajaran Muhammad.

Karena berbagai kenyataan itulah, dalam Indonesia For Sale, pemimpin situs Aceh di masa DOM, Acehkita.com ini merasa heran dengan kelakuan aktivis Islam yang lebih suka merasia buku-buku sosialisme dan komunisme dibanding text book kapitalisme. “Aku pun heran bila ada ulama yang ikut-ikutan tentara membenci komunis tapi gagap menghadapi kapitalisme atau liberalisme,” tulis Dandhy. Padahal Karl Marx, embahnya sosialis mengatakan agama sebagai candu hanya dikaitkan dalam etos kerja dan tak ada kaitannya dengan teologi.

Sisi lain yang membuat buku ini menjadi berbeda adalah keberanian Dandhy untuk memberikan warna kekinian dari sejarah masa lalu. Seperti saat Dandhy mendiskripsikan sejarah William Wallace yang pernah difilmkan dalam Brave Heart dengan Mel Gibson. Dandhy juga tidak ragu mengutip sebuah film berjudul 300 yang menokohkan kaum Spartan. “Spartannnnn,..hah huh hah huh,” tulisnya. Meski demikian hal itu tidak menjadi sisi nasionalisme dan kesejahteraan yang merupakan dua picing mata yang saling berhubungan menjadi tidak terjelaskan.
Dalam konteks Indonesia, keduanya lebih banyak berbenturan. Terutama ketika dalam era enam presiden, keseimbangan antara nasionalisme dan kesejahteraan mengalami pasang surut.

Indonesia for Sale ingin kembali mengingatkan khalayak, bahwa sejarah telah mencatat kesejahteraan versi Orde Baru adalah sebuah hal yang semu. Kesejahteraan menjadi semacam opium yang membius kesadaran. Saat tertidur kekenyangan, ladang kita telah tergadaikan. Saat kita terlelap mesra, tanah air yang dulu direbut kakek nenek kita dengan darah, tiba-tiba ditumbuhi taman belukar berwujud dolar. Dengan plakat besar di depannya: Indonesia for Sale.